"KAI Commuter tetap mengimplementasikan dukungan terhadap industri dalam negeri untuk tidak melakukan impor kereta baru. Namun, sebagai solusi bridging pemenuhan kebutuhan sarana, diperlukan pengadaan kereta bukan baru dari Jepang demi menjaga kecukupan kapasitas angkut hingga 10 tahun ke depan," beber Karina.
"Pararel dalam waktu bridging tersebut akan dilakukan integrasi KAI INKA-KAI dan peningkatan kapabilitas dan kualitas produksi dalam negeri sebagaimana telah disampaikan juga oleh Direktur Utama PT KAI (Persero) pada RDP Komisi VI beberapa waktu lalu," imbuh ia.
Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengusulkan impor kereta rel listrik (KRL) bukan baru atau bekas dari Jepang. Usulan ini diungkapkan langsung oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin kepada Komisi VI DPR dan disetujui.
Rinciannya, Bobby menyatakan pihaknya membutuhkan tambahan 23 trainset untuk operasional KRL Jabodetabek. Puluhan rangkaian ini rencananya akan dipenuhi dengan pengadaan KRL bukan baru. Kebutuhan itu dibagi menjadi dua, pertama ada 7 trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.
Kebutuhan tambahan armada muncul seiring lonjakan pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, jumlah penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.