NADIKABAR.COM — KAI Commuter menargetkan realisasi impor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang mulai dikirim pada akhir 2026. Pengiriman dilakukan secara bertahap.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi dan penjajakan dengan operator KRL Jepang terkait ketersediaan rangkaian kereta serta waktu kedatangan. Koordinasi ini juga dilakukan dengan kementerian terkait atas kebutuhan dispensasi Impor Barang Modal Tidak Baru (BMTB).

"Ditargetkan secara bertahap trainset Bukan baru dapat mulai dilakukan pengiriman pada akhir tahun ini," ujar Karina kepada NadiKabar, Jumat (2/10/2026).

Karina memastikan rangkaian KRL yang dibeli merupakan unit yang saat ini masih dioperasikan di Jepang dengan kondisi baik. KRL tersebut juga telah dirawat sesuai dengan standar operasional di negara asalnya.

Untuk menjaga performa dan memperpanjang umur teknisnya di Indonesia, Karina menjelaskan KCI menjalin kerja sama dengan para pabrikan komponen KRL di Jepang. Perawatan juga dilakukan di seluruh fasilitas milik KAI Commuter yang mengacu pada standar regulasi pemerintah.

Selain itu, seluruh proses pemeliharaan ditangani oleh tenaga perawatan KRL tersertifikasi yang telah memperoleh transfer ilmu terkait seri kereta tersebut. Pengujian berkala juga dipastikan berjalan di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Kendati demikian, untuk rincian jumlah pasti rangkaian yang akan dikirimkan serta total anggaran, Karina menyatakan masih dalam tahap pembahasan.

"Terkait dengan jumlah, jadwal pengiriman dan biaya saat ini masih dalam pembahasan dan koordinasi KAI Commuter dengan pihak operator di Jepang," jelas Karina.

Dalam prosesnya, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kementerian terkait, termasuk Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, untuk memaparkan kebutuhan kapasitas angkut di wilayah Jabodetabek serta rencana pengadaan sarana bridging ini. Pengajuan perizinan masih terus dilakukan.

"Koordinasi dan proses pengajuan perizinan masih akan terus dilakukan oleh PT KAI (Persero) dan KAI Commuter," terang Karina.

90 KRL Mau PensiunKarina memberikan gambaran seiring dengan tercapainya umur teknis, akan ada lebih dari 90 trainset KRL bekas yang masuk masa konservasi secara bertahap mulai 2026 hingga 2034.

Sebagian kebutuhan penggantian untuk periode 2026-2027 memang telah dipenuhi melalui pengadaan KRL baru yang dimulai sejak 2024 lalu. Namun, demi menjaga komitmen mendukung industri dalam negeri dan tidak mengimpor kereta baru, KCI memerlukan solusi jembatan

"KAI Commuter tetap mengimplementasikan dukungan terhadap industri dalam negeri untuk tidak melakukan impor kereta baru. Namun, sebagai solusi bridging pemenuhan kebutuhan sarana, diperlukan pengadaan kereta bukan baru dari Jepang demi menjaga kecukupan kapasitas angkut hingga 10 tahun ke depan," beber Karina.

"Pararel dalam waktu bridging tersebut akan dilakukan integrasi KAI INKA-KAI dan peningkatan kapabilitas dan kualitas produksi dalam negeri sebagaimana telah disampaikan juga oleh Direktur Utama PT KAI (Persero) pada RDP Komisi VI beberapa waktu lalu," imbuh ia.

Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengusulkan impor kereta rel listrik (KRL) bukan baru atau bekas dari Jepang. Usulan ini diungkapkan langsung oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin kepada Komisi VI DPR dan disetujui.

Rinciannya, Bobby menyatakan pihaknya membutuhkan tambahan 23 trainset untuk operasional KRL Jabodetabek. Puluhan rangkaian ini rencananya akan dipenuhi dengan pengadaan KRL bukan baru. Kebutuhan itu dibagi menjadi dua, pertama ada 7 trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.

Kebutuhan tambahan armada muncul seiring lonjakan pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, jumlah penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.