NADIKABAR.COM — Inara Rusli membacakan chat dengan Wardatina Mawa yang membahas kemungkinan Inara menerima poligami dengan Insanul Fahmi, suami Mawa (kala itu). Dalam percakapan itu, Inara juga mengaku mengkhawatirkan kesehatan mental Mawa di tengah polemik dugaan perzinaan yang membuatnya dilaporkan ke polisi.
Inara mengungkapkan sejumlah percakapan yang menurutnya belum pernah dipublikasikan. Ia menegaskan pesan-pesan tersebut, tidak pernah dimaksudkan untuk menyakiti perasaan atau merendahkan harga diri Mawa.
"Untuk meluruskan beberapa kesalahpahaman yang mungkin pernah dirasakan sama pihak terkait, saya akui memang saya punya kelemahan dalam menyampaikan perkataan secara tertulis. Namun begitu, saya tidak ada niat sama sekali untuk menyakiti atau melukai harga diri maupun perasaan pihak-pihak yang terkait," kata Inara Rusli di Polda Metro Jaya, Senin (19/10/2026) malam.
"Di sini, saya ada beberapa bukti chat yang mungkin belum pernah diekspos sebelumnya pada saat sebelum konflik," lanjutnya.
Salah satu percakapan yang dibacakan Inara berkaitan dengan kesehatan mental Mawa. Ia membantah anggapan menuding Mawa mengalami gangguan mental atau sakit jiwa.
Inara kemudian membacakan pesan yang menurutnya memperlihatkan konteks pembicaraan tersebut. Dalam chat itu, ia mengaku sempat mempertimbangkan untuk menerima poligami, tetapi masih memikirkan kondisi mental Mawa.
"Jujur aku juga kepikiran untuk iyain dia poligami, tapi benar-benar harus mantepin hati. Aku bilang, 'Kamu benar-benar perlu ke psikolog. Satu yang aku khawatirin kesehatan mental kamu'. 'Aku mentalnya juga udah hancur, Kak, bertahun-tahun, terus dapat kabar isu itu datang lagi. Sering banget aku ketawa sendiri'," demikian isi chat yang dibacakan Inara.
Inara menjelaskan, sarannya agar Mawa berkonsultasi dengan psikolog bukan bermaksud merendahkan. Ia merasa tidak memiliki kapasitas untuk memberikan nasihat profesional mengenai kondisi mental maupun persoalan rumah tangga orang lain.
"Itu sebabnya kenapa saya concern dan meminta beliau untuk counseling ke tenaga ahli. Mengingat saya bukan tenaga ahli, saya tidak punya kompetensi untuk bisa memberikan saran dan nasihat untuk rumah tangganya," bebernya.
Di sisi lain, Inara mengaku beberapa kali berusaha menghubungi Mawa melalui pesan pribadi atau direct message (DM). Ia menyebut upaya tersebut dilakukan untuk mengajak Mawa bertemu dan meluruskan persoalan di antara mereka.
"Kemudian saya beberapa kali sudah chat secara langsung via DM untuk mengajak bertemu, bahkan dari sebelum konflik, untuk meluruskan keadaan yang sebenarnya tentang kami semua," ujar Inara.
Namun, menurut Inara, kedatangan Mawa ke Jakarta justru berujung pada laporan polisi yang diterimanya. Ia mengaku semula berharap persoalan tersebut bisa dibicarakan secara langsung.
"Namun saya kaget karena ketika beliau sampai di Jakarta bukan untuk duduk bertiga, tapi laporan polisi yang saya terima," tuturnya.