NADIKABAR.COM — Artikel ini merupakan konten berbayar yang disusun berdasarkan materi dan informasi yang disampaikan oleh pihak pengiklan. Konten ini bertujuan memberikan informasi mengenai perkembangan adopsi aset kripto dan bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli, menjual, atau berinvestasi pada aset kripto tertentu.

Indonesia menduduki peringkat ke-14 negara dengan adopsi kripto tertinggi di dunia dalam Global Crypto Adoption Index 2026 yang dirilis Chainalysis. Itu artinya, posisi Indonesia turun tujuh peringkat dibanding tahun sebelumnya, tetapi masih berada di peringkat 20 besar.

Peringkat tersebut dihitung dari empat sisi, bukan hanya volume trading. Rapor Indonesia cukup rata, yaitu peringkat ke-11 untuk total arus kripto, ke-12 untuk saldo aset, ke-13 untuk transaksi peer-to-peer (P2P), dan ke-10 untuk arus lintas negara.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, per Juli 2026 sudah ada 22,93 juta akun konsumen di pedagang aset keuangan digital. Hal tersebut menunjukkan, meski secara peringkat Indonesia mengalami penurunan, tetapi adopsi kripto di dalam negeri tetap mengalami peningkatan angka.

Chainalysis menyusun peringkat dengan mengukur empat aspek, yaitu, berapa banyak dana yang mengalir ke layanan kripto, seberapa ramai transaksi P2P di dalam negeri, seberapa besar arus kripto keluar masuk antarnegara, dan berapa nilai aset yang disimpan secara on-chain. Keempat skor itu lalu disetarakan skalanya, kemudian digabung jadi satu peringkat.

Posisi Indonesia cukup menarik bila menilik aspek peringkat satu per satu. Peringkat ke-11 untuk total arus menunjukkan banyak dana yang masuk ke berbagai layanan kripto. Peringkat ke-12 untuk saldo berarti orang Indonesia tidak sekadar melakukan transaksi, tetapi juga menyimpan aset kripto dalam jumlah yang lumayan besar.

Untuk P2P atau transaksi langsung dari dompet ke dompet, Indonesia ada di urutan ke-13, dan nilai terbaiknya justru datang dari arus lintas negara, yaitu peringkat ke-10 dunia.

Hal tersebut menjadi penting karena peringkat ke-14 bukan hanya soal berapa banyak orang Indonesia yang membeli Bitcoin (BTC) atau rajin memantau harga Bitcoin hari ini.

Masuknya Indonesia ke 20 besar menunjukkan kripto digunakan dengan berbagai cara. Ada yang difungsikan untuk menyimpan aset, aktif di layanan kripto, bertransaksi P2P, dan ada juga yang mengirim dana lintas negara.