Brasil Puncaki Klasemen, Kripto Global Tetap Bertahan

Brasil menduduki peringkat pertama negara dengan adopsi kripto tertinggi, disusul Amerika Serikat, Nigeria, Jepang, dan Korea Selatan.

Uniknya, Brasil tidak menjadi nomor satu di kategori mana pun. Namun, Brasil selalu masuk empat besar di keempat kategori penilaian. Artinya, cara Chainalysis menilai lebih condong ke negara yang kuat di semua lini, bukan yang hanya baik di satu bidang.

Adapun temuan global yang tidak kalah menarik bahwa selama periode yang diukur, nilai pasar kripto dunia anjlok sekitar US2,1 triliun. Namun, aktivitas ekonomi on-chain nyaris tidak bergeser, hanya turun sekitar 1,6%,dari US$9,5 triliun ke US$9,4 triliun.

Artinya, Penggunaan mata uang kripto tidak selalu ikut naik turun bersama harga pasar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengguna akan tetap menggunakan kripto meski harga jatuh.

Bagaimana Posisi Indonesia Dibanding Negara Asia Lain?

Asia memiliki representasi yang kuat dalam 20 besar. Jepang berada di peringkat ke-4, Korea Selatan ke-5, India ke-6, dan Thailand ke-8. China berada di posisi ke-12, sedikit di atas Indonesia yang menempati urutan ke-14. Sementara itu, Vietnam berada di posisi ke-18 dan Filipina ke-19.

Namun, dari sekian banyak wakil Asia tersebut, gaya adopsi kriptonya beda-beda. China, misalnya, sangat kuat di transaksi P2P. Thailand juga menonjol di kategori yang sama. Sementara Indonesia, kekuatan terbesarnya justru ada di arus lintas negara.

Dengan begitu, daftar negara tersebut sebaiknya tidak dibaca seperti klasemen siapa yang memiliki "pasar kripto paling besar" karena setiap negara memiliki pola tersendiri. Untuk Indonesia, datanya memperlihatkan kripto dipakai di banyak lini, bukan hanya untuk trading.