NADIKABAR.COM — Indonesia dan Singapura resmi meluncurkan Project NUSA (Network of Unified and Secure AI) untuk membangun kerangka tata kelola kecerdasan artifisial dan data terbuka yang aman serta terpadu.
"NUSA ini bukan berarti Nusantara, tetapi singkatan dari Network of Unified and Secure AI sebagai upaya kita untuk membangun komunikasi dan kolaborasi di dalam jaringan tersebut," kata Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (Korika) Hammam Riza saat AI Impact Summit di Bali Tech Week 2026.
Ia di Denpasar, Rabu, menjelaskan kolaborasi ini bertujuan agar seluruh pihak memiliki platform terpadu dalam pemikiran tata kelola, aplikasi, hingga adopsi AI di lingkup pemerintahan, industri, perguruan tinggi, maupun masyarakat.
Untuk menemukan jati diri dalam mengadopsi AI, Indonesia dan Singapura dinilai harus mampu mengendalikan teknologi tersebut melalui tata kelola sumber terbuka.
"Di situlah kata kunci pertama, yaitu tata kelola AI sumber terbuka (open source AI governance) yang bersumber terbuka tetapi menerapkan tata kelola berlandaskan seluruh prinsip etika dan keterlibatan manusia dalam prosesnya," ujar Hammam.
Selain tata kelola terbuka, hal penting berikutnya dalam Project NUSA adalah keterbukaan data dan pengetahuan.
Inisiatif pengembangan ekosistem AI ini juga menyerap tolok ukur kawasan Eropa, Amerika, Singapura, hingga Indonesia dalam proses Peraturan Presiden mengenai Peta Jalan AI Indonesia.