"Memikirkan tata kelola merupakan hal yang sangat sulit karena perkembangan dunia AI saat ini berlangsung dengan sangat cepat," kata William.

Ia menilai tata kelola AI akan kacau jika setiap pihak berjuang secara terpisah tanpa penyatuan upaya.

Menurutnya hubungan Singapura dan Indonesia saling melengkapi karena Singapura unggul dalam teknologi canggih, sementara Indonesia memiliki basis pasar besar untuk memvalidasi kasus penggunaan.

Pendekatan tata kelola yang digunakan bersifat terbuka dan adaptif seperti platform AI Verify yang dirilis Otoritas Pengembangan Media Infokom Singapura.

"Ini tidak akan menjadi milik Singapura, ini tidak akan menjadi milik Indonesia, kita membangun secara terbuka, kita akan menggabungkan yang terbaik dari apa yang kita miliki, dan kita juga akan mengundang orang lain untuk berpikir bersama kita," tutur William.

Pengelolaan data dalam Project NUSA menerapkan pendekatan berlapis, di mana data sensitif tetap disimpan di wilayah kedaulatan masing-masing negara.