Hasilnya cukup mengejutkan. Tim menemukan bukti keberadaan danau purba di 55 lokasi, tetapi tidak menemukan artefak batu maupun tanda-tanda hunian manusia purba di sepanjang jalur survei tersebut. Padahal, temuan berupa fosil kerang dan cangkang telur burung unta menunjukkan bahwa kawasan itu pernah memiliki sumber air tawar dan mendukung kehidupan.

Peneliti kemudian menggabungkan hasil survei dengan peta geologi serta rekonstruksi jaringan air di Semenanjung Arab. Model tersebut juga dibandingkan dengan 362 situs arkeologi yang telah diketahui di kawasan tersebut.

Hasil pemodelan memperlihatkan bahwa sekitar 57% wilayah yang dinilai memiliki akses terhadap air ternyata tidak mempunyai jenis batuan yang cocok untuk pembuatan perkakas. Dengan kata lain, meskipun air tersedia, manusia purba belum tentu bisa menetap di suatu tempat apabila mereka kesulitan memperoleh bahan untuk membuat peralatan.

Bagi manusia pada masa Paleolitikum, batu merupakan bahan penting untuk membuat berbagai perkakas, mulai dari alat pemotong hingga peralatan berburu dan mengolah makanan.

Batu yang dapat dibentuk melalui proses pemangkasan atau pemecahan tertentu memungkinkan manusia menghasilkan alat dengan sisi tajam. Karena itu, lokasi yang memiliki sumber air tetapi tidak menyediakan bahan baku perkakas bisa menjadi tempat yang kurang mendukung kehidupan dalam jangka panjang.

Dalam publikasinya, para peneliti memperingatkan bahwa model migrasi manusia purba yang tidak memperhitungkan faktor geologi berpotensi memberikan gambaran keliru mengenai wilayah yang layak dihuni.