"Model persebaran yang mengabaikan kondisi geologi bahan baku dapat secara sistematis melebih-lebihkan jangkauan wilayah yang dapat dihuni oleh populasi yang bergantung pada perkakas batu," tulis para peneliti seperti dikutip dari Phys.org.
Mereka juga menegaskan bahwa ketersediaan air bukan satu-satunya penentu lokasi hunian manusia purba.
"Apakah populasi manusia purba menetap di suatu lanskap gurun bergantung pada ketersediaan batu yang tersingkap di permukaannya, sama besarnya dengan ketergantungan mereka pada air yang mengisi cekungan-cekungan di wilayah tersebut," tulis tim peneliti.
Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Arabia yang dahulu lebih hijau bukanlah kawasan yang seluruhnya bisa dihuni manusia purba. Persebaran sumber air dan batuan yang dapat diolah menciptakan kantong-kantong wilayah yang mendukung kehidupan, sementara kawasan di antaranya belum tentu layak untuk permukiman jangka panjang.
Penelitian ini juga memberi pelajaran lebih luas bagi studi migrasi manusia purba. Untuk memahami bagaimana manusia menyebar dan bertahan di lingkungan kering, para ilmuwan perlu mempertimbangkan bukan hanya iklim dan air, tetapi juga sumber daya geologi yang menunjang teknologi mereka.