Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi geografis dan pengalaman menghadapi bencana memengaruhi kekhawatiran masyarakat di setiap negara.
Sebanyak 45,5% responden Jepang mengatakan merasa perlu melakukan persiapan, tetapi belum mengambil tindakan. Persentasenya mencapai 41,9% di Taiwan dan 30,5% di Thailand.
Responden yang mengaku telah melakukan persiapan tetapi merasa belum cukup mencapai 42,6% di Jepang, 39% di Taiwan, dan 44,5% di Thailand. Jika kedua kelompok itu digabungkan, tingkat kesiapsiagaan yang dinilai belum memadai mencapai 88,1% di Jepang, 80,9% di Taiwan, dan 75% di Thailand. Sementara itu, hanya 5,5% responden Jepang yang merasa sudah sepenuhnya siap. Angkanya mencapai 6% di Taiwan dan 16% di Thailand.
Menyimpan air, makanan, dan kebutuhan sehari-hari menjadi persiapan yang paling banyak dilakukan responden di Jepang dan Taiwan. Persentasenya masing-masing mencapai 72,8% dan 72,5%. Responden Thailand lebih mengutamakan pencarian informasi terbaru mengenai bencana dengan persentase 74,4%.
Survei juga menemukan pemberitaan mengenai bencana menjadi pendorong utama masyarakat melakukan persiapan. Faktor ini dipilih oleh 53,5% responden Jepang, 63% responden Taiwan, dan 68,9% responden Thailand.
Namun besarnya peran informasi diikuti risiko penyebaran hoaks. Sebanyak 42,6% responden Jepang mengaku pernah menemukan informasi palsu atau menyesatkan terkait bencana.