Ekspor didorong dengan berbagai insentif, baik dari kredit dan fasilitas bantuan negara dalam bentuk promosi dan bantuan non-finansial lainnya melalui kedutaan besar. Hasilnya ekonomi Indonesia tahun 1980-an dan 1990-an bertumbuh 7-8%.
"Ini terjadi tidak lama setelah Indonesia baru digerogoti mega korupsi Pertamina di bawah Ibnu Sutowo. Indonesia hampir bangkrut pada tahun 1979. Dengan kebijakan yang tepat, ekonomi yang bangkrut karena korupsi berhasil bangkit dengan pertumbuhan tinggi. Indonesia pada waktu itu kemudian dijuluki New Asian Tiger," beber Didik.
Peristiwa yang sama tetapi lebih dahsyat terjadi sekarang, menurutnya Timur Tengah yang menjadi kawasan berkembang sangat maju mengalami eskalasi ketegangan geopolitik naik turun dalam keamanan dan pertahanan. Ketegangan geopolitik seperti ini bisa mendorong sebagian investor keluar atau setidaknya melakukan diversifikasi geografis.
Dubai, Abu Dhabi, atau Qatar tidak memang sedang mengalami eksodus investasi besar-besaran, tetapi gerak investasinya pasti melambat. Peluang alternatif pergeseran investasi karena masalah geopolitik ini sebenarnya bisa menempatkan Indonesia menerima luapan gerak investasi tersebut.
Memanfaatkan situasi tersebut menurutnya kawasan ekonomi khusus semacam Batam dan sekitarnya seharusya dapat diposisikan sebagai alternatif investasi Asia yang aman, dekat Singapura dan murah.
Bila pemerintah memilih fokus kebijakan untuk mengembangkan Batam misalnya, kawasan ekonomi itu sudah direncanakan maju mengikuti Singapura sejak tahun 1980-an oleh Presiden ke-3 B.J Habibie. Sekarang sudah cukup maju dan berkembang lebih maju dari kota-kota dan provinsi di sekitaranya.
Menurutnya Batam bisa direncakan untuk menjadi Dubai Kecil di Sumatera. Pertumbuhan ekonomi kuartal yang lalu mencapai 7% dan dinamis karena saling berinteraksi dengan Singapura, yang sudah penuh sesak.
"Kini publik melirik ke Batam karena dengan rencana investor global akan memindahkan investasinya ke pulau ini. Batam akan menjadi salah satu pusat data center dunia, ini harus dipersiapkan dengan dukungan iklim bisnis yang sehat," papar Didik.