NADIKABAR.COM — Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz jika Amerika Serikat (AS) belum memenuhi tujuh syarat yang tercantum dalam perjanjian sementara pada Juni lalu. Syarat tersebut diajukan dalam sidang umum PBB.

Dikutip dari Reuters, Iran berjanji akan membuka kembali Selat Hormuz jika seluruh persyaratan dipenuhi. Bahkan Teheran menjamin akan memulihkan lalu lintas maritim secara normal dalam waktu tujuh hari.

"Posisi Republik Islam Iran sepenuhnya jelas dan tegas, dan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat kami, berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad, dipenuhi," kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dikutip dari Reuters, Senin (5/10/2026).

Qalibaf meminta AS untuk tidak mengukur waktu dalam proses negosiasi tersebut. Ia juga minta untuk tidak mendikte tuntutan sepihak dalam proses negosiasi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pihaknya telah menyampaikan posisi umumnya melalui mediator terkait tanggapan AS. Namun, masih ada sejumlah poin tambahan yang perlu disampaikan kepada Washington.

"Usulan Amerika kurang lebih sejalan dengan posisi mereka sebelumnya, khususnya mengenai isu nuklir. Kami memberi tahu mereka bahwa fokus kami pada tahap ini adalah isu Selat Hormuz dan pemulihan keamanan di jalur air ini membutuhkan langkah-langkah yang jelas dari AS," katanya.

Ia juga membantah anggapan bahwa Iran menawarkan inspeksi fasilitas nuklir kepada badan pengawas nuklir PBB sebagai imbalan atas pencabutan sanksi AS. Ia menegaskan, Iran belum membahas isu nuklir secara langsung dengan Washington.

Dokumen tersebut menyebutkan adanya masa tujuh hari untuk membangun kepercayaan dan memperbaiki kesepakatan damai yang dibuat pada Juni lalu, termasuk soal program nuklir Iran. Menurut pejabat tersebut, Iran-AS tidak berbeda pendapat soal isi rencana, hanya saja kesepakatan terkait urutan langkah yang harus dilakukan yang menjadi perdebatan.