Fundamental emiten merupakan salah satu indikator kunci untuk melihat sehat atau tidaknya sebuah perusahaan, terlebih jika hendak dijadikan opsi investasi oleh pelaku pasar. Analisis terhadap fundamental perusahaan penting dilakukan terlebih apabila investor memilih emiten perbankan sebagai tujuan berinvestasi.

"Di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi pasar, indikator utama seperti pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, dan dana murah masih memberikan gambaran bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga," ungkap Nafan.

Salah satu emiten perbankan yang disoroti adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Nafan menilai emiten perbankan ini masih menunjukkan ketahanan fundamental yang kuat, dibuktikan dengan raihan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun serta pertumbuhan penyaluran kredit hingga 8 persen secara tahunan mencapai Rp 1.036 triliun pada semester I 2026.

Nafan juga menyoroti struktur pendanaannya yang sangat sehat dan kuat berkat ditopang dana murah (CASA). Porsi dana murah tersebut mencapai 84,3 persen dari total dana pihak ketiga perseroan per paruh pertama 2026.

Pada periode tersebut, nilai CASA tercatat meningkat 10,2 persen secara tahunan menjadi Rp 1.082 triliun. Sementara dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) perseroan berada di level 1,9 persen dengan Loan at Risk (LAR) sebesar 4,9 persen.