NADIKABAR.COM — Dinamika pasar modal membuat keterbukaan informasi dan kondisi fundamental semakin penting untuk menjadi rujukan investor. Konfirmasi resmi perusahaan penting diperhatikan agar investor dapat membedakan informasi terverifikasi dengan spekulasi di pasar
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa investor perlu mencermati informasi material berdasarkan sumber resmi perusahaan. Langkah tersebut penting terutama ketika muncul rumor yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar.
"Investor perlu membedakan informasi material yang telah dikonfirmasi dengan spekulasi pasar," ujar Nafan dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).
Sifat hati-hati tersebut penting dimiliki investor, salah satunya dalam melihat fakta di balik aktivitas perdagangan di pasar. Menurut Nafan, tidak semua transaksi di bursa bisa dikaitkan dengan aksi korporasi tertentu, apalagi jika tidak ada analisis lebih lanjut atas hal tersebut.
"Lebih tepat melihat transaksi sebagai aktivitas perdagangan yang perlu ditelusuri berdasarkan pihak yang bertransaksi, harga, volume, dan keterbukaan informasi terkait, bukan semata-mata dari nilai transaksi agregatnya," tutur Nafan.
Nafan mengingatkan investor agar selalu menggabungkan beberapa sumber informasi sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi suatu perusahaan. Apabila investor mengacu pada informasi resmi serta mencermati kinerja fundamental emiten, mereka dapat menempatkan berbagai sentimen pasar dalam konteks lebih utuh.
Fundamental emiten merupakan salah satu indikator kunci untuk melihat sehat atau tidaknya sebuah perusahaan, terlebih jika hendak dijadikan opsi investasi oleh pelaku pasar. Analisis terhadap fundamental perusahaan penting dilakukan terlebih apabila investor memilih emiten perbankan sebagai tujuan berinvestasi.
"Di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi pasar, indikator utama seperti pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, dan dana murah masih memberikan gambaran bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga," ungkap Nafan.
Salah satu emiten perbankan yang disoroti adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Nafan menilai emiten perbankan ini masih menunjukkan ketahanan fundamental yang kuat, dibuktikan dengan raihan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun serta pertumbuhan penyaluran kredit hingga 8 persen secara tahunan mencapai Rp 1.036 triliun pada semester I 2026.
Nafan juga menyoroti struktur pendanaannya yang sangat sehat dan kuat berkat ditopang dana murah (CASA). Porsi dana murah tersebut mencapai 84,3 persen dari total dana pihak ketiga perseroan per paruh pertama 2026.
Pada periode tersebut, nilai CASA tercatat meningkat 10,2 persen secara tahunan menjadi Rp 1.082 triliun. Sementara dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) perseroan berada di level 1,9 persen dengan Loan at Risk (LAR) sebesar 4,9 persen.
Selain itu, emiten perbankan ini juga konsisten membukukan pertumbuhan laba bersih dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 54,8 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan.
Performa tersebut berlanjut pada 2025 dengan kenaikan laba bersih sebesar 4,9 persen menjadi Rp 57,5 triliun. Pertumbuhan laba ini sejalan dengan kenaikan penyaluran kredit yang meningkat dari Rp 922 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp 993 triliun per akhir 2025.
Tak hanya mencatat kinerja positif, BCA juga rutin melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback). Sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027, emiten perbankan ini telah melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun.
Nafan menjelaskan bahwa buyback merupakan salah satu cara manajemen perusahaan membantu menjaga stabilitas harga saham. Selain itu, upaya ini sekaligus menjadi sinyal kuat yang menunjukkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perseroan.
"Ini sebagai salah satu mekanisme stabilisasi dan bentuk pengelolaan modal yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor ketika volatilitas meningkat," pungkasnya.