"Misalkan sudah disediakan 50 mobil tangki gara-gara ada lonjakan panic buying dan lain-lain itu bisa butuh tambah 10 (mobil), nyari 10 (mobil) dalam waktu segera nggak gampang. Jadi, kalau recovery-nya ini yang kita hindari, karena recovery itu butuh waktu paling tidak seminggu," jelas Eko.
Sebelumnya, harga minyak sempat lagi di atas US$ 100 per barel minggu ini seiring dengan meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.
Kondisi ini membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga komoditas energi yang satu ini terkerek.