NADIKABAR.COM — Langit di sejumlah wilayah Kalimantan mulai terlihat lebih bersih setelah hujan mengguyur kawasan yang sebelumnya diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perubahan ini membawa sedikit kelegaan bagi warga yang sudah tiga bulan menghadapi udara tercemar dan jarak pandang yang terbatas.

Secara ilmiah, hujan dapat membantu membersihkan atmosfer melalui proses yang dikenal sebagai wet deposition atau deposisi basah. Ketika tetesan air jatuh melewati udara, sebagian partikel pencemar, termasuk partikel dari asap kebakaran, dapat tertangkap dan terbawa turun ke permukaan.

Proses ini membantu mengurangi jumlah partikel yang melayang di udara. Ketika konsentrasi partikel berkurang, jarak pandang pun berpotensi membaik. Penelitian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB periode 2010-2019 Sutopo Purwo Nugroho yang diterbitkan dalam Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca pada 2000, membahas upaya mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada 1997.

Penelitian tersebut mengevaluasi penerapan modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan sekaligus membantu proses pembersihan asap. Studi tersebut menunjukkan adanya peningkatan jarak pandang di permukaan. Namun, peningkatan itu tidak terlalu signifikan karena konsentrasi asap sangat tinggi dan penyebarannya mencakup wilayah luas. Massa asap yang masih berada di sekitarnya dapat kembali mengisi wilayah yang sebelumnya lebih bersih.

Temuan tersebut memperlihatkan, hujan dapat membantu mengurangi dampak kabut asap, tetapi efektivitasnya sangat dipengaruhi kondisi atmosfer dan banyaknya asap yang masih dihasilkan oleh kebakaran.