Faktor lain yang menentukan kondisi kabut asap adalah angin. Arah dan kecepatannya dapat membawa polutan menjauh dari satu wilayah atau justru mengarahkannya ke permukiman lain.
Dalam penelitian oleh Erwin Mulyana yang diterbitkan di jurnal yang sama pada 2025, peneliti mengamati penyebaran polutan saat karhutla di Sumatera Selatan pada 2015, dengan menggunakan data titik panas, curah hujan, kualitas udara, karbon hitam (black carbon), serta arah dan kecepatan angin untuk menganalisis pergerakan polutan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa angin pada lapisan atmosfer yang dianalisis umumnya bertiup dari tenggara hingga timur. Akibatnya, karbon hitam dari kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir menyebar ke wilayah Musi Banyuasin dan Banyuasin.
Studi ini tidak secara khusus membuktikan seberapa besar hujan menghilangkan asap di Kalimantan. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa penyebaran polutan tidak hanya ditentukan oleh lokasi kebakaran. Kondisi angin dan curah hujan juga perlu diperhitungkan untuk memahami perubahan kualitas udara.