Bahkan kini Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menggambarkan negara itu sebagai negara yang sedang menghadapi tantangan ekonomi yang luar biasa. Sebab negara itu telah kehilangan sekitar US$ 60 miliar atau Rp 1.078,68 triliun (Kurs Rp 17.978/dolar AS) dari pendapatan minyak akibat perang.
Sementara gangguan pada rute pelayaran Hormuz juga memutus rantai pasok berbagai barang kebutuhan pokok warga setempat meningkatkan waktu dan biaya transportasi, hingga menekan drastis volume impor.
Alhasil banyak warga kini harus mengandalkan barang lokal seiring dengan menipisnya stok produk impor di toko-toko. Seperti salah satunya yang dialami seorang pemilik supermarket di Baghdad, Alaa-Eddin Sulaibi, yang mengatakan jumlah barang impor yang dijual di tokonya saat ini sekitar 70%, turun dari kondisi sebelum perang dimulai yakni 90%.
"Kami tidak punya pilihan selain menjual produk lokal, meskipun kualitasnya tidak sama dengan produk impor," katanya.