Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa harga barang impor di Irak kini telah naik antara 25% hingga 30%. Sebab barang-barang impor yang mayoritas datang dari China ini menghadapi penundaan yang signifikan.
Bahkan dalam beberapa kasus membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk sampai karena peningkatan biaya transportasi akibat importir terpaksa mengambil rute yang lebih berliku untuk menghindari Selat Hormuz, atau tertunda di titik rawan maritim tersebut.
"Alasan (kenaikan harga) tidak hanya terbatas pada gangguan di Teluk, tetapi juga waktu pengiriman yang lebih lama untuk barang yang datang dari China, dan biaya bahan bakar dan transportasi yang lebih tinggi, khususnya untuk perdagangan dengan Turki," jelasnya.
Beberapa pedagang yang berbicara kepada Al Jazeera juga menyampaikan hal serupa. Menunjukkan bagaimana saat ini Irak sedang dilanda krisis ekonomi dari segi penurunan pendapatan nasional imbas pelemahan ekspor hingga terbatasnya stok produk impor untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat.