Didik menjelaskan, Batam berpeluang menjadi salah satu hub data center utama di kawasan, terutama karena Singapura mulai membatasi pembangunan data center baru akibat keterbatasan lahan dan energi. Di Batam, rencana investasi data center diperkirakan mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar dengan target kapasitas sekitar 1,3 gigawatt.
Dengan pertumbuhan ekonomi daerah sekitar 7%, Batam dinilai berpeluang menjadi pusat pertumbuhan baru yang ditopang investasi data center. Sejumlah investor juga telah mengumumkan rencana investasi, termasuk US$ 1,7 miliar untuk pengembangan infrastruktur cloud dan AI di Indonesia.
Sementara itu, AWS berkomitmen menanamkan investasi US$ 5 miliar. Firmus bahkan tengah membangun kampus data center di Batam dengan target kapasitas hingga 170.000 akselerator AI.
Secara nasional, kapasitas data center diproyeksikan menembus 2.000 MW pada 2030, dengan permintaan tumbuh rata-rata 16,8% per tahun berdasarkan proyeksi Bank Dunia.
"Batam bisa mengambil peluang itu, didukung tiga faktor utama, dimana Indonesia merupakan pusat ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan 200 juta lebih pengguna internet," pungkasnya.