NADIKABAR.COM — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghentikan proyek pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/Al) milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Proyek ini dibangun di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi sebagai bagian dari kawasan pengembangan seluas 11 hektare dengan nilai investasi sekitar Rp 3,5 triliun.

Langkah ini dinilai berpotensi merusak iklim investasi dalam negeri. Pemerintah sendiri diketahui menargetkan investasi data center AI senilai Rp 360 triliun untuk masuk ke Indonesia.

Target ini dianggap memungkinkan karena saat ini Indonesia memiliki 182 data center yang mayoritas beroperasi di Jakarta dan Batam. Pemerintah juga menetapkan jawasan data center, yakni Batam, Jawa Barat, Madura, dan Bali.

"Tetapi di Jawa Barat terjadi kisruh di mana pembangunan data center dihentikan sepihak oleh gubernur dengan berbagai alasan lingkungan hidup, pasokan air dan beragam alasan lainnya. Praktek kebijakan yang menyebabkan iklim investasi rusak seperti ini menjadi kendala besar bagi masa depan perekonomian, yang sekarang terhenti bertumbuh moderat 5%," kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026).

Didik menegaskan Indonesia membutuhkan investasi besar untuk mengembangkan ekosistem data center. Namun, menurutnya, peluang investasi tersebut terancam di Jawa Barat dan bisa berdampak pada iklim investasi secara lebih luas.

Ia mengingatkan Indonesia pernah kehilangan peluang investasi semikonduktor pada 1980-an. Saat itu, sejumlah perusahaan teknologi global seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto sempat membangun fasilitas perakitan chip di Jakarta dan Bandung, tetapi investasi tersebut akhirnya terhenti akibat kebijakan pemerintah.

"Pada pada tahun 1985, terjadi konflik kebijakan mengenai otomatisasi produksi, yang kemudian dimenangkan oleh aliran kuno ortodoks dengan membatasi otomatisasi dan memaksa penyerapan tenaga kerja manual kepada investor. Tentu saja kebijakan kuno seperti ini tidak cocok dengan ivestasi canggih mereka dan akhirnya hengkang ke Penang, Malaysia," terangnya.

Indonesia sempat menjadi salah satu pemain utama industri semikonduktor di Asia Tenggara pada 1970-an hingga awal 1980-an. Namun, posisi tersebut kemudian bergeser ke Malaysia akibat kebijakan yang dinilai kurang tepat serta persaingan menarik investasi dengan negara tetangga.

Peluang yang sebelumnya dimiliki Indonesia pun akhirnya beralih ke Malaysia. Saat ini, Malaysia menguasai sekitar 13% pangsa pasar global untuk aktivitas pengujian, perakitan, dan pengemasan chip.

Menurutnya kondisi tersebut serupa dengan yang terjadi di Jawa Barat, di mana investasi sudah dilaksanakan tetapi dihentikan sepihak. Ia menilai, keputusan ini menjadi pukulan telak bagi investor karena tidak kepastian iklim investasi.

"Pemerintah harus dengan segera mengantisipasi ganjalan dari pemerintah daerah, yang merusak iklim investasi. Pada sisi program di lapangan mulai dulu dari pemerintah daerah yang ramah investasi," jelasnya.

Didik menjelaskan, Batam berpeluang menjadi salah satu hub data center utama di kawasan, terutama karena Singapura mulai membatasi pembangunan data center baru akibat keterbatasan lahan dan energi. Di Batam, rencana investasi data center diperkirakan mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar dengan target kapasitas sekitar 1,3 gigawatt.

Dengan pertumbuhan ekonomi daerah sekitar 7%, Batam dinilai berpeluang menjadi pusat pertumbuhan baru yang ditopang investasi data center. Sejumlah investor juga telah mengumumkan rencana investasi, termasuk US$ 1,7 miliar untuk pengembangan infrastruktur cloud dan AI di Indonesia.

Sementara itu, AWS berkomitmen menanamkan investasi US$ 5 miliar. Firmus bahkan tengah membangun kampus data center di Batam dengan target kapasitas hingga 170.000 akselerator AI.

Secara nasional, kapasitas data center diproyeksikan menembus 2.000 MW pada 2030, dengan permintaan tumbuh rata-rata 16,8% per tahun berdasarkan proyeksi Bank Dunia.

"Batam bisa mengambil peluang itu, didukung tiga faktor utama, dimana Indonesia merupakan pusat ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan 200 juta lebih pengguna internet," pungkasnya.