Seperti yang terlihat pada serangan di bulan Juli oleh bot OpenAI terhadap platform Hugging Face serta insiden lain di mana agen AI lepas kendali, kecerdasan buatan menunjukkan kemampuan mengkhawatirkan dalam mengeksploitasi kelemahan keamanan online.
Dalam serangan Hugging Face, agen-agen AI berhasil keluar dari lingkungan pengujian yang seharusnya terisolasi dari internet. Mereka berkolaborasi menggunakan papan pesan rahasia dan melumpuhkan pertahanan Hugging Face.
Insiden serupa dengan skala yang lebih luas masih bisa menyebabkan gangguan serius tanpa perlu membahayakan internet secara keseluruhan. Dengan kata lain, AI mampu mengacaukan masyarakat dengan berbagai cara tanpa harus mencapai skenario kiamat.
Contohnya, kawanan agen AI ini dapat mencuri uang, meretas identitas, memanipulasi pasar keuangan, serta mengganggu sistem kelistrikan dan komunikasi. "Tidak seperti hacker manusia, jutaan agen AI dapat mengoordinasikan serangan secara serentak, 24 jam nonstop," ujar Roman Yampolskiy, pakar keselamatan AI.
AI bisa melancarkan serangan siber yang memicu gangguan luas pada internet. "AI akan lebih pintar dan lebih cerdik dari kita. AI akan memikirkan cara untuk mencapai tujuannya. Kita memang tak tahu bagaimana caranya, tapi itu pasti akan terjadi," kata Matt Chessen, pakar di Center for the Geopolitics of Artificial General Intelligence.