NADIKABAR.COM — Junaedi menghampiri pelatihnya setelah pertandingan final para judo kelas J1 -70 kg putra Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 berakhir di Aichi Prefectural Martial Arts Hall, Jepang, Senin.
Keduanya kemudian berpelukan. Tidak ada medali emas yang dibawa pulang. Junaedi harus mengakui ketangguhan Zhu Shiwen dari China setelah pertandingan berakhir melalui ippon dalam waktu 45 detik.
Namun, kekalahan tersebut tidak menghapus satu kemenangan yang diraih Junaedi beberapa saat sebelumnya. Kemenangan atas seorang lawan yang selama bertahun-tahun tidak pernah mampu ia taklukkan.
Namanya Kapil Parmar, atlet para judo asal India.
Junaedi sudah empat kali menghadapi Parmar dalam berbagai kejuaraan internasional ketika masih bertanding di kelas -60 kg. Dari seluruh pertemuan tersebut, ia selalu menelan kekalahan.
"Selama saya bertanding dengannya, saya belum pernah menang sama sekali," kata Junaedi mengenang pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Salah satu kekalahan itu terjadi pada final IBSA Judo Grand Prix Baku 2023 di Azerbaijan.
Ketika itu, Junaedi sebenarnya sempat membuka peluang untuk meraih kemenangan setelah teknik seoi-nage yang dilancarkannya menghasilkan waza-ari.
Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan. Parmar berhasil membalikkan keadaan melalui teknik uchi-mata yang menghasilkan ippon. Junaedi pun harus puas dengan medali perak.
Tiga tahun berselang, keduanya kembali dipertemukan dalam pertandingan semifinal Asian Para Games 2026 di Nagoya.
Kali ini, situasinya berbeda. Junaedi tidak lagi tampil pada kelas -60 kg, melainkan telah naik ke kelas -70 kg setelah mempertimbangkan ketatnya persaingan di kelas sebelumnya.
Keputusan tersebut membuahkan hasil. Junaedi akhirnya menundukkan Parmar melalui ippon sekaligus memastikan tiket menuju final.
"Alhamdulillah, saya bisa atas arahan tim pelatih terutama, tim ofisial, dan dukungannya saya bisa dan mampu," ujar Junaedi.
Kemenangan atas Parmar menjadi hasil dari proses panjang yang dijalani Junaedi bersama tim pelatih.
Ia mengakui sebelumnya cenderung menggunakan teknik yang sama ketika bertanding. Kekurangan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki cara memperoleh pegangan atau kumikata, menentukan posisi, serta mencari waktu yang tepat untuk melancarkan serangan.
"Kalau dulu kan tekniknya itu-itu aja, terus berkat arahan tim pelatih, jadi kumikatanya harus seperti ini," katanya.
Selain memperbaiki teknik, Junaedi juga memperbanyak pengalaman melalui berbagai kejuaraan internasional.
Ia pernah mengikuti pertandingan di Brasil, Georgia, hingga Kazakhstan. Kesempatan tersebut membuatnya semakin terbiasa menghadapi lawan dengan karakter berbeda sekaligus mengasah mental bertanding.
"Timing itu pasti terbentuk karena kita sering bertanding. Sering bertanding keluar kayak kemarin ke Brazil, terus ke Georgia, terus ke Kazakhstan," kata Junaedi.