NADIKABAR.COM — Sebanyak sembilan pusaka bersejarah dari berbagai kerajaan dan kesultanan di Indonesia dihadirkan dalam upacara Kirab Pusaka dan Ruwatan Bumi yang digelar oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kebudayaan 2026.
Kirab tersebut diikuti ratusan peserta dan digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (16/10). Kirab Pusaka diawali dengan penyerahan keris pusaka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, kepada Juru Pusaka di Museum Keris Indonesia.
"Keberadaan pusaka-pusaka tersebut memperlihatkan keragaman warisan budaya Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah, tradisi kepemimpinan, dan perjuangan masyarakat di berbagai daerah," ujar Bambang Wibawarta dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).
Juru Jejampang dan Tari Loro Blonyo mengawali barisan kirab. Barisan berikutnya diikuti oleh Kalowijan, para sesepuh, muda-mudi berprestasi, dan pembawa pusaka. Sementara itu, jajaran pimpinan, Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon, pusaka, serta masyarakat umum mengisi barisan selanjutnya.
Prosesi ini menempuh rute dari Museum Keris Indonesia menuju Danau Archipelago, kemudian kembali ke Museum Keris Indonesia sebagai titik akhir. Kirab Pusaka ini menjadi rangkaian tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Kirab Pusaka menghadirkan sembilan pusaka bersejarah, di antaranya Keris Ki Aliawang dari Kesultanan Banjarmasin, Keris Jaka Piturun dari Kesultanan Bangkalan, Piso Gaja Dompak milik Sisingamangaraja XII, Keris Riau-Lingga, Keris Singapraga dari Kerajaan Badung, Keris Kesultanan Gowa, Keris Merak Manyura dari Kesultanan Palembang, Tombak Kiai Rondhan yang dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro, serta Keris Kesultanan Banten.
Melalui pengenalan pusaka kepada masyarakat, kegiatan ini turut memperluas apresiasi terhadap kekayaan sejarah dan budaya Nusantara. Setelah Kirab Pusaka berakhir, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Ruwatan Bumi.
Prosesi ini diawali dengan wilujengan atau doa, disertai sajian tumpeng, ingkung ayam, dan pisang raja setangkep. Selanjutnya, prosesi diteruskan dengan ngala atau ngalap berkah yang menghadirkan Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon.
Dalam rangkaian tersebut, Bambang turut melakukan pemotongan tumpeng dan pelepasan burung dara. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kembul bujana atau makan bersama.
Melalui rangkaian Kirab Pusaka dan Ruwatan Bumi, Kementerian Kebudayaan menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi kekayaan tradisi Nusantara sekaligus memperkuat komitmen terhadap pelindungan dan pemajuan kebudayaan Indonesia.