Pada sektor perkebunan, Amran menyoroti peran besar Jawa Timur dalam menopang produksi gula nasional. Ia menyebut sekitar 50 persen produksi gula nasional berasal dari Jawa Timur sehingga penguatan sektor tebu di provinsi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan swasembada gula.

Menurutnya, peningkatan produksi harus diikuti penguatan industri pengolahan atau hilirisasi agar memberikan nilai tambah bagi petani dan industri gula nasional. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kinerja pabrik gula serta mempercepat peremajaan tanaman tebu milik rakyat.

"Kita kawal gula di Jawa Timur karena kontribusinya sangat besar. Ke depan, kita dorong hilirisasi dan peremajaan tebu rakyat. Targetnya, pada 2028 peremajaan ini bisa dituntaskan," paparnya.

Selain meningkatkan produksi, Amran mengingatkan pentingnya pembenahan tata niaga agar hasil pertanian dan peternakan bermanfaat bagi produsen maupun konsumen.

Ia pun mencontohkan persoalan harga telur dan pakan yang membutuhkan pengawasan terhadap rantai distribusi, termasuk memastikan peningkatan produksi dapat terserap dengan baik oleh pasar dan program pemerintah.

Amran menegaskan menjaga sektor pertanian bukan hanya soal meningkatkan produksi, melainkan juga memastikan kebijakan berpihak kepada petani, peternak, dan konsumen. Karena itu, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pelaku usaha diperlukan agar peningkatan produksi tidak terhambat persoalan distribusi dan tata niaga.

Amran berharap semangat kolaborasi yang telah ditunjukkan Jawa Timur dapat diperluas ke daerah lain di Indonesia. Menurutnya, gerakan bersama dalam memperkuat produksi, mengembangkan teknologi, dan membangun hilirisasi akan memberikan dampak yang lebih besar bagi pertanian nasional.

"Kalau seluruh Indonesia bergerak bersama seperti Jawa Timur, saya kira hasilnya bisa eksponensial. Kita ingin daerah-daerah semakin kuat, petani dan peternak semakin sejahtera, dan swasembada pangan yang sudah dicapai dapat terus kita jaga," pungkasnya.