Selain itu, pengguna juga menghabiskan waktu lebih banyak di media sosial daripada browser Google, menjadikan Instagram dan Facebook milik Meta berpotensi menunjukkan lebih banyak iklan.

"Ini seperti pedang bermata dua. Seiring AI merevolusi penemuan internet (discovery), orang mungkin menemukan alat yang lebih mereka sukai daripada Google," kata analis AI Emarketer Nate Elliott, dikutip dari CNBC, Minggu (1/11).

"Jika ChatGPT, Claude, atau Muse lebih baik dalam membantu mereka menemukan apa yang mereka cari, kebiasaan pencarian orang mungkin berubah untuk pertama kalinya dalam satu generasi. Itu berpotensi menjadi bencana bagi bisnis iklan Google," tambah Elliott.

Pendapatan Meta meningkat 26 persen menjadi US$63,1 miliar (Rp1.146 triliun) pada kuartal ketiga tahun ini, naik dari US$50,1 miliar di tahun lalu. Sementara itu, Google Search hanya mengalami pertumbuhan 12 persen menjadi US$63,4 miliar (Rp1.151 triliun).