NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan pada perdagangan pekan ini.
Setelah melemah selama dua hari berturut-turut pada awal pekan, indeks sempat menguat tipis pada Rabu (28/10), sebelum kembali anjlok pada Kamis (29/10). Tekanan berlanjut pada Jumat (30/10) pagi, ketika IHSG turun ke level 4.993.
Sejumlah sentimen membebani pergerakan indeks, mulai dari persoalan fiskal dan kenaikan harga minyak, evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), hingga keluarnya dana asing dan ketidakpastian global.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata disebabkan oleh sentimen MSCI. Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kebutuhan dolar AS dan berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Kebutuhan dolar yang meningkat di tengah harga minyak tinggi, kata Ibrahim, menjadi salah satu faktor yang mendorong arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik. Persoalan fiskal menjadi sentimen utama yang perlu diperhatikan pasar.
"Memang yang paling utama adalah masalah fiskal. Masalah-masalah fiskal ini berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan," kata Ibrahim kepada NadiKabar.com, Jumat (30/10).
Terkait MSCI, Ibrahim mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih memiliki waktu hingga Juni 2027 untuk melakukan pembenahan. Jika reformasi tidak berjalan sesuai harapan, pasar modal Indonesia berisiko turun kelas dua tingkat menjadi pasar mandiri (standalone market).
"OJK itu diberi waktu cukup lama sebenarnya, bisa enggak melakukan perubahan reformasi? Kalau tidak, baru akan diturunkan," ujarnya.