Hendra menilai rencana reformasi pasar modal belum cukup untuk memulihkan kepercayaan apabila belum diterapkan secara konsisten. Investor membutuhkan bukti pembenahan, keterbukaan informasi, penegakan aturan, dan kepastian kebijakan.

Selain faktor domestik, tekanan juga berasal dari pasar global. Hendra memandang ketidakpastian arah suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.

Kondisi tersebut dapat mendorong pergeseran dana dari pasar negara berkembang ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Tekanan dari berbagai sentimen tersebut tercermin dalam pergerakan IHSG sepanjang pekan ini. Pada Senin (26/10), indeks ditutup melemah 1,22 persen ke level 5.373. Pelemahan berlanjut pada Selasa (27/10), ketika IHSG turun 1,99 persen ke posisi 5.266.

Pada Rabu (28/10), IHSG sempat menguat 0,31 persen ke level 5.282. Namun, penguatan tersebut tidak berlanjut. Pada Kamis (29/10), indeks kembali anjlok 3,49 persen ke posisi 5.098.

Tekanan berlanjut pada Jumat (30/10) pagi. IHSG dibuka di level 5.066 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 5.116. Namun, indeks kemudian berbalik melemah hingga mencapai level terendah 4.979.

Pada data perdagangan Jumat pagi, IHSG tercatat turun 104,12 poin atau 2,04 persen ke level 4.993. Dengan posisi tersebut, IHSG turun sekitar 7,1 persen dibandingkan penutupan Senin (26/10). Angka ini merupakan perbandingan dari penutupan Senin dengan posisi IHSG pada Jumat pagi, bukan hasil penutupan perdagangan selama sepekan.