Ibrahim juga menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang tembus level US$101. Selain itu, pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai kemungkinan serangan besar-besaran terhadap Iran setelah pemilu 3 November turut memicu kekhawatiran pasar.

Menurut Ibrahim, ketegangan geopolitik tersebut dapat mendorong kenaikan harga minyak dan indeks dolar AS, yang kemudian ikut menekan IHSG.

Pasar juga tengah menunggu data inflasi. Jika inflasi tercatat tinggi, kondisi itu berpotensi menambah tekanan terhadap pasar modal.

Dari sisi pasar saham, tekanan terlihat dari besarnya dana asing yang keluar. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investir Hendra Wardana mencatat investor asing melakukan jual bersih atau net sell sebesar Rp1,51 triliun di pasar reguler pada perdagangan Kamis (29/10). Secara akumulatif, net sell asing sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp126 triliun.

Hendra menilai angka tersebut mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar domestik. Tekanan yang terjadi bukan hanya persoalan penurunan harga saham, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan investor yang melemah.

"Persoalan utamanya bukan semata-mata valuasi saham yang turun, melainkan krisis kepercayaan yang membuat investor cenderung menahan pembelian dan memilih mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia," ucap Hendra.

Ia menjelaskan ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, transparansi kepemilikan saham, kualitas tata kelola, dan kredibilitas mekanisme perdagangan menjadi sejumlah hal yang dicermati investor. Mereka butuh kepastian mengenai kewajaran pembentukan harga, keterlacakan struktur kepemilikan, serta likuiditas pasar.