NADIKABAR.COM — Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah hingga kini masih terus memanas tanpa kepastian kapan akan selesai. Ketegangan tersebut berujung pada penutupan Selat Hormuz setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan jalur tersebut tertutup bagi lalu lintas pelayaran.

Penutupan jalur maritim strategis ini masih berdampak langsung terhadap Indonesia, terutama dalam hal distribusi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Tanah Air.

Praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menjelaskan penutupan Selat Hormuz mengganggu sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah dunia atau setara hampir 20 juta barel per hari (bopd).

Kondisi tersebut mengancam pasokan BBM di Indonesia karena RI masih mengandalkan impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

"Sekitar 25 persen diimpor dari Timur Tengah atau setara dengan 0,3 juta bopd. Jumlah yang sangat signifikan jika Selat Hormuz terus ditutup," ujar Hadi kepada NadiKabar.com, Rabu (21/10).