Sementara itu, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan Selat Hormuz berperan vital karena menyatukan pusat produksi energi di Teluk dengan pasar Asia melalui koridor yang sempit.
"Konflik di Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan BBM Indonesia karena gangguan tidak berhenti pada berkurangnya minyak mentah," ujar Syafruddin kepada NadiKabar.com.
Ia mengatakan kilang dan distributor domestik Indonesia membeli minyak mentah, LPG, serta produk BBM berdasarkan harga internasional yang langsung menyerap risiko gejolak di Selat Hormuz.
Ketika ancaman keamanan meningkat, pasar akan menaikkan harga sebelum kelangkaan fisik benar-benar terjadi akibat penambahan inventaris, kenaikan tarif sewa kapal tanker, serta lonjakan beban premi asuransi perang.