NADIKABAR.COM — Perubahan tren pasar, persaingan bisnis, hingga tantangan operasional menjadi sejumlah hal yang harus dihadapi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di tengah tantangan ini, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi digital menjadi hal penting untuk menjaga keberlangsungan sekaligus mengembangkan usaha.
Pentingnya adaptasi digital bagi keberlangsungan usaha pun diceritakan oleh dua UMKM asal Surabaya, Jawa Timur, yakni Makaroni SOS dan Trendy Spring Bed. Berawal dari usaha rumahan dengan modal terbatas hingga bisnis keluarga yang nyaris bangkrut, keduanya mampu menemukan peluang baru lewat pemasaran secara daring.
Kisah keduanya diangkat dalam program Shopee Story Lab bersama Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira. Dalam program ini, Makaroni SOS dan Trendy Spring Bed berbagi pengalaman serta strategi dalam memanfaatkan ekosistem digital dalam menjalankan usaha.
Perjalanan pertama datang dari Makaroni SOS, usaha camilan yang dirintis oleh kakak beradik Ahmad Adi Drajad dan Ayna Dai Makmur pada September 2021. Memulai bisnis di tengah pandemi, keduanya berangkat dari ide sederhana untuk mencoba menjual camilan secara daring.
Dengan modal awal kurang dari Rp500 ribu, usaha yang semula dijalankan dengan segala keterbatasan tersebut perlahan berkembang. Kini, Makaroni SOS telah memiliki fasilitas produksi sendiri dan mampu melayani sekitar 1.600 hingga 2.000 pesanan setiap hari. Jumlah tersebut bahkan meningkat hingga tiga kali lipat saat kampanye tanggal kembar berlangsung.
Perkembangan bisnis juga terlihat dari variasi produk yang ditawarkan. Makaroni SOS kini memiliki lebih dari 80 jenis produk dengan ratusan varian. Dalam perjalanannya, usaha ini juga turut melibatkan pelaku UMKM lokal sebagai pemasok untuk memenuhi kebutuhan produksi harian.
Ahmad mengatakan konsistensi dalam memahami kebutuhan pasar dan keberanian mencoba hal baru menjadi faktor penting dalam mengembangkan usaha. Menurutnya, pelaku UMKM juga perlu siap menghadapi berbagai perubahan karena perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus.
"Kita itu juga mulai dari kecil, dari modal yang cuma tidak sampai Rp500.000 bahkan. Jadi memang untuk UMKM, terus saja riset pasar. Kita nggak selalu selamanya itu akan naik terus, pasti ada fase-fase down-nya, tapi tidak perlu merasa low terus-terusan. Yang penting kita berpikir maju terus," ujar Ahmad dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).
Dalam mengembangkan bisnis, Makaroni SOS memanfaatkan fitur Shopee Live dengan menggelar siaran langsung hampir 24 jam setiap hari. Kegiatan ini didukung lima orang host yang bekerja secara bergantian untuk memperkenalkan produk dan berinteraksi dengan calon pembeli.
Untuk menjaga antusiasme penonton, mereka juga menghadirkan berbagai program promosi, salah satunya 'promo gledek'. Program ini menggabungkan undian berhadiah dengan penawaran diskon khusus bagi penonton yang aktif memberikan tanda suka dan komentar selama siaran berlangsung.
Lewat fitur penjualan digital, Makaroni SOS bisa lebih dekat dengan konsumen sekaligus meningkatkan penjualan. Ahmad juga mengajak pelaku UMKM lain untuk mulai memanfaatkan platform digital agar bisa menjangkau lebih banyak pembeli dan terus mengembangkan produk.
Berbeda dengan Makaroni SOS yang berawal dari usaha rintisan, Trendy Spring Bed merupakan bisnis keluarga yang telah berdiri sejak 1990. Perusahaan manufaktur kasur ini didirikan oleh ayah Vincentius Leonardo dan sempat mencapai masa kejayaan melalui penjualan konvensional.
Namun, bisnis Trendy Spring Bed mulai menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi kesehatan sang ayah yang menurun berdampak pada pengelolaan usaha. Persaingan yang semakin ketat dan tumpukan piutang juga membuat kondisi keuangan perusahaan tertekan hingga nyaris bangkrut.
Biaya distribusi turut menjadi kendala. Di sisi lain, penjualan kasur melalui jalur konvensional membutuhkan ongkos logistik yang cukup besar, sehingga perusahaan kesulitan memperluas jangkauan pasar.
Peluang baru muncul ketika Direktur Digital Marketing Trendy Spring Bed, Stephanie Maria Angeline mencoba memasarkan produk melalui akun Shopee pribadinya. Respons positif dari konsumen kemudian mendorong keluarga tersebut untuk lebih serius mengembangkan penjualan secara digital.
Trendy Spring Bed juga melakukan inovasi produk melalui kasur tipe Synchronize Bonell Spring. Kasur ini dirancang agar bisa divakum, dipres, dan digulung ke dalam kotak tanpa merusak bagian pegas. Cara tersebut memudahkan proses pengemasan sekaligus menekan biaya pengiriman ke berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Business & Development Trendy Spring Bed, Vincentius Leonardo, mengatakan fitur Shopee Ads turut membantu meningkatkan penjualan. Dengan modal iklan awal sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu, Trendy Spring Bed mencatat omzet Rp 68 juta pada bulan pertama. Angka tersebut kemudian meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp 128 juta pada bulan berikutnya.
Menurut Vincentius, iklan digital membantu produk menjangkau calon pembeli melalui algoritma platform. Fitur ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk baru yang belum banyak dikenal masyarakat.
"Kalau kita punya produk baru, kita suruh affiliate (afiliasi) jualin produk yang nggak viral, mereka pasti nolak semua. Tapi kalau algoritma kita suruh kerja, pokoknya kita kasih dia suplai, dia akan bekerja sesuai dengan job-nya dan dia pasti lakuin itu, nggak mungkin bohong," kata Vincentius.
Selain Shopee Ads, Trendy Spring Bed juga memanfaatkan Shopee Live untuk membangun kepercayaan konsumen. Mengingat kasur merupakan produk berukuran besar yang membutuhkan pertimbangan sebelum dibeli, perusahaan rutin melakukan siaran langsung selama 12 jam setiap hari.
Melalui siaran tersebut, konsumen dapat menyaksikan langsung proses demonstrasi produk, termasuk bagaimana kasur yang telah dikemas dalam kondisi vakum dapat kembali mengembang dengan sempurna setelah dibuka. Cara ini membantu calon pembeli memahami kualitas produk sebelum membelinya.
Strategi tersebut turut mendorong peningkatan konversi penjualan hingga 40%. Vincentius mengungkapkan dalam satu sesi siaran langsung selama tiga jam, penjualan dapat mencapai sedikitnya 100 pesanan. Pada periode dengan performa terbaik, jumlahnya bahkan bisa mencapai 900 hingga 1.500 pesanan.
"Tiga jam mereka live, itu paling jelek itu seratus (pesanan) pasti dapat. Kalau waktu bagus tiga jam kadang bisa sembilan ratus bisa sampai seribu lima ratus," tutur Vincentius.
Perjalanan Makaroni SOS dan Trendy Spring Bed menjadi bukti pemanfaatan teknologi digital bisa membuka peluang bagi UMKM dalam mengembangkan bisnis. Mulai dari memperkenalkan produk, membangun interaksi dengan konsumen, hingga mengoptimalkan strategi pemasaran.
Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira mengatakan kedua kisah tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan beradaptasi dan melihat peluang dalam mengembangkan bisnis.
"Ini contoh konkret. Anak muda yang punya tekad dan bisa adaptasi sama digital. Jago melihat peluang," jelas Radynal.
Melalui ekosistem digital, Shopee mendorong pelaku UMKM lokal untuk memanfaatkan teknologi dalam memperluas jangkauan pasar, meningkatkan daya saing, dan mengembangkan inovasi produk.