NADIKABAR.COM — Sejarah sains beberapa punya kisah mengerikan. Ilmuwan asal Rusia Ilya Ivanovich pernah mengutarakan niat untuk membuat hibdrida dari simpanse dan manusia -- humanzee. Meski kedengarannya absurd, Ivanov bukan orang sembarangan.

Ilya Ivanovich adalah seorang ahli biologi kelahiran tahun 1870. Saat beranjak dewasa, ia menorehkan berbagai pencapaian mengesankan di bidang inseminasi buatan. Konon, ia mampu menginseminasi 500 ekor kuda betina hanya dengan menggunakan sperma dari satu ekor kuda jantan.

Di puncak kariernya, pikiran Ivanov mulai melanglang buana mencari tantangan baru. Ivanov kepikiran untuk mengambil sperma hewan dan memasukkannya ke dalam spesies yang berbeda untuk melihat apa yang akan terjadi.

Ia memulainya secara perlahan dengan menciptakan zedonk (hasil persilangan zebra dan keledai), hibrida tikus besar dan tikus kecil (rat-mouse), hibrida marmut dan tikus, serta suatu makhluk aneh hasil persilangan antelop dan sapi.

Kemudian, pada tahun 1910, ia menyampaikan kepada sekelompok ahli zoologi gagasannya bahwa penciptaan hibrida manusia-simpanse atau 'humanzee' mungkin saja bisa dilakukan. Kala itu, gagasan tersebut hanyalah sebatas hipotesis.

Melansir IFLScience, Sabtu (3/10/2026), Ivanov bukanlah orang pertama yang memimpikan hal ini, dan ia pun bukan yang terakhir. Meskipun secara realistis kecil kemungkinannya hibrida semacam itu bisa berkembang hingga lahir, klaim mengenai keberadaan hibrida manusia-kera sempat muncul jauh setelah masa Ivanov.

Salah satu contohnya adalah Oliver, seekor simpanse yang berjalan tegak dan digembar-gemborkan oleh para promotornya sebagai hibrida, hingga akhirnya para ilmuwan membuktikannya tidak sesuai klaim.

Kesempatan itu akhirnya tiba setelah Revolusi Rusia tahun 1917, saat ia bekerja di Institut Pasteur. Di sanalah, pada tahun 1924, Ivanov diberi kesempatan untuk mewujudkan proyek hibridisasi yang selama ini diimpikannya.

Ivanov diberi akses penuh terhadap simpanse mana pun yang ia inginkan di sebuah fasilitas yang berlokasi di wilayah yang saat itu dikenal sebagai French Guinea. Yang mengejutkan, ia menerima dana sebesar USD 10.000 dari Komisi Keuangan Soviet untuk melaksanakan pekerjaannya, bahkan sebelum mendapatkan persetujuan resmi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Soviet maupun para pejabat senior pemerintah Bolshevik.

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa eksperimen ini dapat membuktikan teori Darwin mengenai seberapa dekat kekerabatan manusia dengan kera. Ada kemungkinan pula bahwa pihak Bolshevik ingin menunjukkan pencapaian di bidang genetika, yang selaras dengan gagasan mereka tentang 'eugenika positif'.

Singkat cerita, Ivanov tiba di fasilitas tersebut untuk melakukan keahlian utamanya: memindahkan sperma dari satu hewan ke hewan lainnya. Pada tahun 1926, ia dan Serge Voronoff mentransplantasikan ovarium manusia ke tubuh seekor simpanse betina, lalu mencoba menginseminasinya dengan sperma manusia. Ia mencoba prosedur ini dua kali lagi, namun gagal.

Alih-alih mengakui kekalahannya, Ivanov justru mengajukan pendekatan alternatif yang jauh lebih mengerikan. Dia mengambil sperma simpanse dan menanamkannya ke dalam rahim perempuan Afrika tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka.

Rencananya adalah dengan berpura-pura bahwa prosedur inseminasi itu hanyalah pemeriksaan medis biasa, sehingga mereka baru akan menyadari kenyataannya berbulan-bulan kemudian saat melahirkan bayi yang sangat berbulu dan memiliki kemampuan memanjat yang luar biasa. Untunglah, gubernur Prancis menolak gagasan tersebut.

Ia belum menyerah. Dengan cara lain, ia bertekad mendapatkan humanzee yang berbulu, sehingga ia mulai merekrut perempuan Soviet yang bersedia berkontribusi demi ilmu pengetahuan. Yang lagi-lagi mengejutkan, ia berhasil meyakinkan orang-orang untuk terlibat dalam rencananya.

Lima perempuan atau lebih mengajukan diri untuk eksperimennya. Akan tetapi muncul kendala, tidak ada simpanse yang bertahan hidup lama di tempat penangkaran tersebut. Jadi, meskipun ia memiliki kandidat perempuan, ia justru kehabisan stok sperma.

Sebelum ia sempat mendatangkan lebih banyak lagi, Akademi Ilmu Pengetahuan Soviet mendengar kabar mengenai rencananya untuk melakukan inseminasi terhadap perempuan-perempuan di Afrika tanpa persetujuan mereka. Akibatnya, seluruh dukungan bagi proyek tersebut dicabut dengan alasan bahwa hal itu dapat mengikis kepercayaan masyarakat Afrika terhadap peneliti dan dokter Eropa.

"Serta menimbulkan masalah bagi ekspedisi ilmuwan Rusia selanjutnya ke Afrika," kata mereka.

Sebelum ia sempat menemukan cara baru untuk melanjutkan pekerjaannya, ia diasingkan dalam sebuah pembersihan ilmuwan oleh pemerintah yang tidak terkait dengan proyek tersebut. Ivanov meninggal tak lama kemudian tanpa pernah memiliki sosok manusia-simpanse yang dia harap-harapkan.