Nitisemito tercatat mulai mengembangkan bisnis kretek pada awal 1900-an. Lalu pada 1914, ia mendaftarkan merek Tjap Tiga Bal dan membangun pabrik yang dikenal sebagai Kretek Cigaretten Fabriek M. Nitisemito Koedoes.

Ia sempat memakai beberapa merek sebelum akhirnya identik dengan Bal Tiga, kemudian membangun identitas merek melalui logo tiga bulatan pada kemasan. Kajian Jantra mencatat Nitisemito termasuk pelopor penggunaan merek dan kemasan dalam pemasaran kretek.

Strategi pemasarannya tergolong sangat masif untuk ukuran zamannya. Nitisemito memakai hadiah untuk menarik konsumen, kendaraan sebagai sarana distribusi sekaligus promosi, bahkan punya radio sendiri bernama Kudusche Radio Bal Tiga Vereniging.

Disebutkan, salah satu cara promosi yang paling heboh adalah menggunakan pesawat. Pesawat itu dipakai Nitisemito untuk menyebarkan brosur brosur rokoknya, Bal Tiga, dari udara. Bal Tiga kemudian berkembang menjadi perusahaan dengan ribuan pekerja dan terus bertambah hingga mencapai 10 ribu pekerja.

Produknya dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia dan Singapura. Dalam jurnal Universitas Diponegoro mengenai Museum Kretek, tercatat agen Bal Tiga tersebar dari Aceh hingga Boven Digul. Dokumen yang tersimpan di museum juga menunjukkan hubungan dagang dengan Batam, Singapura dan Johor.