Besarnya bisnis tersebut membuat Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek. Kajian sejarah Museum Kretek menyebut ia bahkan dikenal dengan istilah "Koning der Koningen", atau raja di antara raja-raja kretek di Hindia Belanda.

Dikutip dari NadiKabar, perusahaan Nitisemito juga punya sistem administrasi sendiri. Museum Kretek menyimpan dokumen seperti Journal Keuangan Nitisemito, laporan pemasukan dan berbagai dokumen transaksi perusahaan.

Besarnya perusahaan tersebut bahkan meninggalkan jejak dalam sejarah pemerintahan kolonial. Kajian Universitas Diponegoro mencatat Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengunjungi perusahaan Bal Tiga pada 1937.

Namun bisnis sebesar Bal Tiga tidak bertahan selamanya. Perusahaan mulai menghadapi persoalan internal, persaingan yang semakin ketat serta masalah dalam pengelolaan perusahaan. Kondisi semakin sulit setelah perubahan ekonomi akibat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang.

Setelah Nitisemito meninggal pada 1953, kejayaan Bal Tiga semakin meredup. Kerajaan bisnis yang pernah menghasilkan jutaan batang rokok setiap hari itu akhirnya tinggal sejarah. Namun jejaknya masih tersimpan di Museum Kretek, mulai dari dokumen perusahaan, foto, benda promosi hingga peralatan bisnis.