NADIKABAR.COM β€” Guna mengamankan kekayaan keanekaragaman hayati nasional Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) tengah mematangkan proyek strategis perlindungan ekosistem bertajuk Land and Ecosystem National Threat Evaluation and Risk Assessment (LENTERA).

Direktur Penyelenggaraan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH Hariani Samal di Jakarta, Senin, mengatakan LENTERA disiapkan untuk diimplementasikan pada 2027 di tiga wilayah percontohan kawasan biogeografi Wallacea, yakni Buton (Sulawesi Tenggara), Banggai Kepulauan (Sulawesi Tengah), dan dan Sumba Timur (Nusa Tenggara Timur/NTT), guna membangun sistem tata kelola lingkungan yang terukur dan terintegrasi.

Menurutnya, langkah strategis yang didukung oleh pendanaan Global Environment Facility (GEF-8) ini merupakan wujud penerapan Pilar Lestari sebagai model tata kelola lingkungan hidup berbasis geospasial.

Melalui proyek ini pihaknya menargetkan arah perlindungan lingkungan dari pemerintah pusat hingga daerah dapat diterjemahkan ke dalam perencanaan yang spesifik sesuai kondisi tapak dan berbasis bukti ilmiah.

"Melalui LENTERA, kami ingin memperkuat dasar ilmiah perencanaan lingkungan hidup, bukan hanya melihat potensi sumber daya alam, tetapi juga kondisi dan risiko ekosistemnya. Ini menjadi langkah konkret untuk mendukung penerapan Pilar Lestari ke depan," ujarnya.

Sebagai lembaga pelaksana Implementing Agency, dukungan GEF melalui IUCN difokuskan untuk melembagakan penilaian risiko ekosistem nasional menggunakan metodologi Red List of Ecosystems (RLE) standar IUCN.

Guna memastikan program selaras dengan kebutuhan di tingkat tapak, pihaknya telah merampungkan serangkaian kunjungan lapangan partisipatif di tiga kabupaten percontohan kawasan Wallacea. Evaluasi ini menggabungkan koordinasi lintas instansi dengan dialog bersama masyarakat adat dan lokal.

Pertama di Kabupaten Buton yang berfokus pada Ekoregion Banua Karstik Muna–Buton, tim melakukan peninjauan tata ruang, observasi ekosistem karst, dan kondisi tutupan hutan.

Kemudian, katanya, di Kabupaten Banggai Kepulauan yang menyasar Ekoregion Banua Karstik Banggai, tim menggelar dialog inklusif bersama tokoh adat, kelompok perempuan, pemuda, dan kelompok rentan untuk memetakan pola pemanfaatan sumber daya alam lokal.

Selain itu Kabupaten Sumba Timur ada di Ekoregion Nusa Savana Tana Humba, fokus peninjauan dititikberatkan pada bentang alam savana, Daerah Aliran Sungai (DAS), serta pelibatan perajin tenun tradisional sebagai penggerak ekonomi berkelanjutan.

"KLH/BPLH memandang pelibatan masyarakat sejak tahap awal sangat krusial. Hal ini menjamin bahwa informasi ilmiah dan kearifan lokal dapat saling melengkapi," ujarnya.

Seluruh rangkaian konsultasi ini memastikan Proyek LENTERA mematuhi prinsip perlindungan sosial sekaligus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat ekoregion yang berwawasan lingkungan.