NADIKABAR.COM — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan masyarakat bahwa jawaban dari chatbot berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) tidak sepenuhnya benar dan berpotensi keliru.
"AI tentu memiliki banyak manfaat. Namun, kita juga tetap harus kritis bahwa AI juga menghasilkan jawaban itu berdasarkan pola. Pola yang masuk ke dalam sistem AI, chatbot-nya umumnya dan di dalam sistem bahasanya mereka," kata Marroli Jeni Indrarto, Direktur Kemitraan Komunikasi dan Lembaga dan Kehumasan Komdigi, di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Kamis (29/10).
Oleh sebab itu, Marolli mengingatkan supaya masyarakat perlu memeriksa kembali melalui sumber informasi yang terpercaya. Ia menekankan pentingnya keterlibatan manusia untuk memeriksa dan memverifikasi informasi yang dihasilkan AI.
Ia turut menyarankan masyarakat untuk membandingkan jawaban chatbot dengan sumber yang terverifikasi, termasuk media daring yang kredibel.
"Jadi, belum tentu ada juga, belum tentu sekali lagi, ada kebenaran ya, di dalam (jawaban) AI itu. Makanya, penting untuk kita melakukan intervensi manusia untuk mengecek terutama, check dan recheck, juga penting adalah kita mencari konfirmasi kebenaran ada sumber-sumber yang verified ya, ada media online yang verified ya, pada media-media lain," jelasnya.
Marolli menjelaskan saat ini sejumlah platform AI telah memberikan peringatan bahwa sistem mereka dapat menghasilkan kesalahan. Oleh karena itu, pengguna perlu melakukan pemeriksaan ulang sebelum menjadikan jawaban AI sebagai acuan.
Ia menegaskan bahwa AI seharusnya membantu manusia dalam proses berpikir, bukan mengambil alih keputusan dan penilaian pengguna.
"Pada beberapa platform AI ya, mereka juga mengatakan bahwa AI can make mistakes. Jadi, masih ada potensi platfrom itu kemudian tidak sepenuhnya benar. Makanya, kembali perlu adanya check dan re-check dari penggunanya," tegas Marolli.
"Intinya adalah AI boleh membantu kita berpikir, tetapi kemudian keputusan dan penilaian tetap harus berada di tangan para penggunanya," tambahnya