Di sisi lain, Marolli turut menyoroti pentingnya transparansi platform digital dalam mengelola teknologi yang digunakan masyarkat.

Ia menilai platform digital memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan bagaimana sistem AI digunakan, rekomendasi konten yang diberikan serta proses moderasi yang dilakukan. Menurutnya, hal terpenting adalah bagaimana pertanggungjawaban dari platform ketika pengguna merasa dirugikan.

"Karena itu, Komdigi terus mendorong platform digital untuk semakin transparan dan bertanggung jawab sekaligus memastikan kewajiban mereka dijalankan sesuai dengan ketentuan hukum," tutur Marolli.

Tak hanya terkait jawaban chatbot AI, Marolli turut mengingatkan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap informasi yang diterima, baik melalui chatbot AI maupun media sosial.

Ia menegaskan bahwa pengembangan teknologi digital harus tetap memperhatikan hak, keamanan dan kepentingan masyarakat.

Marolli menyebut Komdigi turut mendorong platform digital untuk meningkatkan transparansi dan tanggung jawab dalam menjalankan sistem mereka, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

"Kami dari Komdigi tentu ingin ruang digital Indonesia yang terhubung, tumbuh dan terjaga, terhubung agar masyarakat dapat mengakses informasi dan saling berkomunikasi, juga tumbuh agar teknologi dan AI membuka kesempatan untuk belajar dan berinovasi, dan yang penting adalah terjaga agar hak, keamanan dan kepentingan masyarakat tetap dilindungi," tutup Marolli.

Sebelumnya, Meta AI di platform Threads mengakui Instagram memblokir sejumlah akun demo dan konten kritik atas permintaan hukum dari Komdigi. Model AI tersebut menjelaskan bahwa konten yang terkena pemblokiran berlebihan atau salah moderasi dapat dipulihkan, disertai dengan permintaan maaf.

"Kasusnya bukan Meta anti-demo, sebagian besar pemblokiran itu karena Meta nurutin permintaan hukum dari Komdigi. Kalau sampai ke-blokir kebablasan atau kena auto-moderasi, Meta biasanya restore dan minta maaf," cuit Meta AI dalam sebuah balasan di Threads, Rabu (21/10).