Kreator juga perlu transparan ketika menggunakan AI dalam proses pembuatan konten. Jujur dan mengakui bahwa sebuah konten yang diunggah menggunakan bantuan AI akan membantu audiens memahami bagaimana sebuah karya dibuat dan menjaga kepercayaan terhadap pembuatnya.

Kreator TikTok Theresa (@theresalearns) mengingatkan bahwa AI dapat mendukung kreativitas jika digunakan secara bertanggung jawab. Kreator dapat mengaktifkan Label AI ketika mengunggah konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.

TikTok menyebut telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi Content Credentials, perangkat pelabelan kreator, dan teknologi watermark tak terlihat. Platform ini juga menerapkan Kredensial Konten C2PA untuk membantu mengenali konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.

Tidak semua perangkat AI memiliki fungsi yang sama. Kreator disarankan memilih alat berdasarkan kebutuhan, alih-alih mengandalkan satu perangkat untuk seluruh proses produksi.

TikTok, misalnya, menyediakan fitur AI Outline untuk membantu menyusun kerangka konten, ide judul, hashtag, hingga hook video. Ada pula Smart Split di TikTok Studio yang dapat membantu membagi video panjang menjadi beberapa klip pendek secara otomatis.

Pemilihan alat yang tepat dapat membantu proses kreatif menjadi lebih efisien. Namun, kreator tetap perlu memeriksa kualitas hasilnya sebelum dipublikasikan.

Konten AI yang terlihat meyakinkan belum tentu akurat. Kreator TikTok Evelyn Hutani (@hutanhutani) mengajak pengguna membiasakan diri untuk berpikir dua kali, sebelum mempercayai atau membagikan konten yang menarik perhatian. Hal ini sesuai dengan kampanye literasi AI yang sedang diusung TikTok, #PikirDuaKali.