Ia memperkenalkan prinsip 3C yang bisa digunakan saat menemukan konten mencurigakan:

Pengguna juga dapat menyesuaikan jumlah konten buatan AI yang ingin muncul di feed TikTok melalui menu Pengaturan dan Privasi, lalu Preferensi Konten, Kelola Topik, dan Konten Buatan AI.

Kemampuan AI terus berkembang, sehingga pemahaman pengguna terhadap teknologi ini juga perlu diperbarui. Edukasi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat mengenali risiko sekaligus memanfaatkan teknologi secara lebih bertanggung jawab.

TikTok bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk National Association for Media Literacy Education (NAMLE) dan pakar AI Henry Ajder, untuk mengembangkan panduan penggunaan AI yang bertanggung jawab. Platform tersebut juga mendukung organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation dalam mendorong literasi AI.

Menurut TikTok, sejak diluncurkan pada November 2025, program tersebut telah membantu berbagai organisasi mitra meraih lebih dari 200 juta views melalui konten edukasi tentang penggunaan AI secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, AI dapat menjadi alat bantu yang berguna untuk belajar dan berkarya. Namun, pengguna tetap perlu menetapkan tujuan, memilih alat yang sesuai, memeriksa hasilnya, dan memahami konteks sebelum membagikan informasi kepada orang lain.

Pengguna yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang pengelolaan konten AI di TikTok dapat mengetik kata AI di kolom pencarian TikTok untuk menemukan informasi dan panduan terkait.