NADIKABAR.COM — PT KAI mengusulkan impor kereta rel listrik (KRL) bekas pakai dari luar negeri guna atasi ancaman krisis armada KRL Jabodetabek pada periode 2026 hingga 2029.
Jakarta - PT KAI mengusulkan impor kereta rel listrik (KRL) bekas pakai dari luar negeri guna atasi ancaman krisis armada KRL Jabodetabek pada periode 2026 hingga 2029.
Sejumlah penumpang berlalu lalang di Stasiun Universitas Pancasila, Kamis (24/09/2026).
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin mengungkapkan bahwa KRL Jabodetabek kini dipadati hingga 480 orang per gerbong dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (23/09/2026).
Dengan total 480 orang per gerbong kereta berarti terdapat sekitar 8 orang per satu meter persegi. Jumlah penumpang tersebut sudah melampaui tingkat kepadatan ideal yang hanya bisa menampung 360 orang dalam satu gerbong kereta.
Tingkat okupansi saat jam sibuk pada tiga rute bahkan melewati 100%. Rute tersibuk terdapat pada rute Rangkasbitung yang melampaui angka 160%, disusul oleh rute Bogor sekitar 130%, dan rute Bekasi pada kisaran angka 120%.
KAI memperkirakan sedikitnya 87 trainset KRL harus diganti hingga 2031. Pada 2026 saja, perusahaan memproyeksikan kekurangan hingga 22 trainset akibat keterlambatan pengiriman armada serta keharusan mengonservasi 13 trainset lama.
Di sisi lain, produksi KRL dalam negeri melalui PT Industri Kereta Api (INKA) belum dapat langsung memenuhi seluruh kebutuhan tambahan armada.
Kapasitas produksi INKA tengah ditingkatkan hingga sekitar 15-16 trainset per tahun, namun peningkatan tersebut membutuhkan waktu.
Karena itu, KAI mengusulkan penggunaan KRL bukan baru yang telah melalui proses peremajaan atau refurbishment. Menurut Bobby, langkah tersebut dapat digunakan untuk menutup kekurangan armada dalam jangka pendek sambil menunggu peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.