Kendati demikian, Prabowo mengingatkan tantangan utama pemerintah saat ini adalah memastikan kekayaan dan pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat lapisan bawah.
Ia juga menyoroti ketimpangan ekonomi serta kebocoran kekayaan negara yang dinilainya terjadi karena arah filosofi ekonomi sempat menyimpang dari konstitusi.
"Selama ini kita harus berani koreksi diri, selama ini filosofi ekonomi kita tidak sesuai dengan UUD 45. Saya katakan kita harus berani, sekarang saatnya kita berani katakanlah apa adanya, katakanlah merah adalah merah, putih adalah putih," kata Prabowo.
Ia menambahkan selama ini nikmat pertumbuhan ekonomi cenderung terkonsentrasi pada segelintir pihak saja, sementara puluhan juta rakyat masih membutuhkan bantuan untuk terangkat dari kemiskinan.
"Sekarang ekonomi selama ini hanya dinikmati oleh kurang dari 1 persen di atas. Tapi bayangkan Rp53 triliun, 2 juta rakyat kita yang miskin itu istilahnya yang sangat perlu kita angkat tingkat hidupnya, mungkin itu cukup banyak, masih puluhan juta. Tapi yang ingin saya garis bawahi kita di jalan yang benar, arah benar," paparnya.