NADIKABAR.COM — PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,10 triliun pada Semester I 2026. Laba tersebut meningkat 56,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 702 miliar.
Pada periode yang sama, pendapatan bersih Perseroan tercatat sebesar Rp 15,3 triliun, tumbuh 5,6% dibandingkan Rp 14,45 triliun pada Semester I 2025. Sejalan dengan itu, laba per saham atau earnings per share (EPS) tercatat sebesar Rp 571 per saham, meningkat 56,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja Perseroan tersebut dipengaruhi oleh upaya Perseroan menjaga efisiensi dan konsistensi proses operasional, selain juga karena pergerakan harga CPO dan permintaan minyak nabati global. Berbagai faktor tersebut turut mendukung pertumbuhan laba Perseroan sepanjang enam bulan pertama 2026.
Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk, Tingning Sukowignjo mengatakan capaian ini menunjukkan Perseroan menjalankan operational excellence, melakukan kontrol belanja Perseroan, menjaga efisiensi, dan continuous improvement di seluruh lini operasional.
"Kami percaya bahwa proses yang baik akan membuahkan hasil yang baik. Hal ini sudah dibuktikan dengan resilience Astra Agro dalam menghadapi tantangan industri sawit yang volatile, dimana Perseroan masih bisa membukukan pertumbuhan kinerja positif di tengah lanskap ketidakpastian," ujar Tingning dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).
Kinerja tersebut dicapai di tengah dinamika industri minyak nabati global. Minyak sawit tetap memiliki posisi kompetitif di antara minyak nabati utama dunia, sementara permintaan domestik juga terus berkembang.
"Di Indonesia, konsumsi minyak sawit domestik hingga Juni 2026 tumbuh sekitar 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, antara lain ditopang kebutuhan pangan dan penyerapan biodiesel," tuturnya.
Dari sisi operasional, produksi CPO Astra Agro pada Semester I 2026 tercatat sebesar 558 ribu ton. Sementara itu, volume penjualan CPO dan produk turunannya mencapai 898 ribu ton, meningkat dibandingkan 883 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Transformasi untuk Menjaga Kinerja Jangka Panjang
Sejalan dengan tema 'Performing & Transforming Sustainability', Astra Agro menjalankan transformasi dengan berfokus pada dua fondasi utama, yakni plant dan people. Transformasi tersebut diarahkan tidak hanya untuk mendukung pencapaian kinerja saat ini, tetapi juga memperkuat produktivitas, efisiensi, dan daya tahan bisnis dalam jangka panjang.
"Dari sisi tanaman, Perseroan melakukan percepatan proses replanting, dengan mempertimbangkan sisi kuantitas yaitu peningkatan hektar replanting dan dari sisi kualitas tanaman, Astra Agro menggunakan varietas bibit unggul yang dikembangkan oleh Research & Development Astra Agro," ungkapnya.
Pada 2025, Astra Agro telah merilis tiga varietas unggul baru yang memiliki ketahanan terhadap Ganoderma, yaitu DxP AAL Nirmala MRG, DxP AAL Lestari MRG, dan DxP AAL Sejahtera MRG. Tiga varietas ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kebun di masa mendatang.
Transformasi juga diperkuat melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia dan penerapan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan operasional. Pada 2025, Astra Agro mencatat reduksi emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 35,69% dibandingkan baseline 2019, penggunaan energi terbarukan mencapai 92,3%, serta pemanfaatan limbah padat sebesar 100%.
Salah satu implementasi transformasi tersebut adalah pemanfaatan teknologi methane capture yang mengolah Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi biogas yang kemudian dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi terbarukan.
"Hingga Semester I 2026, tiga fasilitas methane capture Astra Agro di Riau telah menghasilkan pemanfaatan biogas sekitar 8,01 juta Nm³ sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi sekitar 39.573 ton CO₂ ekuivalen," jelasnya.
Menurut Tingning, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan upaya meningkatkan kinerja bisnis dan menjalankan transformasi perlu dilakukan secara beriringan.
"Bagi kami, kinerja dan transformasi harus berjalan bersama. Peningkatan produktivitas, efisiensi sumber daya, pengembangan sumber daya manusia, serta pengelolaan lingkungan merupakan pondasi untuk keberlanjutan bisnis," tutup Tingning.