Proses ini terjadi ketika molekul-molekul udara menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek secara lebih kuat. Inilah salah satu alasan langit pada siang hari umumnya tampak biru.
Ketika cahaya Matahari melewati atmosfer yang dipenuhi partikel asap akibat karhutla, hamburan Mie menjadi lebih berperan. Ukuran partikel asap yang mendekati panjang gelombang cahaya menyebabkan berbagai warna cahaya mengalami hamburan dengan karakteristik berbeda sehingga langit dapat terlihat kuning, jingga, hingga merah.
Jika partikel yang berada di udara berukuran lebih besar, misalnya beberapa mikron, hamburan dapat berlangsung lebih merata pada berbagai panjang gelombang. Kondisi ini disebut hamburan nonselektif.
Akibatnya, cahaya dari berbagai warna tersebar relatif merata dan partikel di atmosfer dapat membuat asap atau kabut tampak putih atau keabu-abuan. Jadi, ketika langit Kalimantan berubah menjadi merah saat karhutla, warna tersebut merupakan efek interaksi cahaya Matahari dengan partikel-partikel di atmosfer. Semakin tebal dan pekat asap, semakin kuat pula pengaruhnya terhadap cahaya yang mencapai mata pengamat.