Untuk menangani persoalan tersebut, LG CNS berkoordinasi dengan DJP dan mendatangkan tim teknis khusus dari Korea Selatan.
"Ketika masalah muncul, kami segera mendatangkan tim khusus dari Korea. Tim tersebut bekerja sama dengan DJP untuk menganalisis penyebab masalah dan mencari solusinya," ungkap Mark.
Tim khusus tersebut bertugas mengidentifikasi gangguan, melakukan analisis teknis, dan membantu penyelesaian masalah agar Coretax dapat beroperasi lebih stabil.
Mark mengklaim berbagai kendala pada masa awal implementasi berhasil ditangani. Menurutnya, Coretax kini telah berjalan stabil dibandingkan saat pertama kali diluncurkan.
Meski demikian, LG CNS tidak menangani operasional dan pemeliharaan harian Coretax secara langsung. Perusahaan masih memberikan dukungan teknologi terkait infrastruktur dan database sesuai kontrak, sekaligus menjalankan proses transfer pengetahuan kepada tim Indonesia.
Mark juga menyoroti kemajuan teknologi pemerintahan Indonesia selama dua dekade terakhir. Menurutnya, kemampuan perusahaan teknologi lokal telah meningkat signifikan dibandingkan ketika LG CNS pertama kali hadir pada 2006.
Ia mengatakan Korea Selatan memang lebih dahulu mengembangkan sistem pemerintahan berbasis elektronik. Namun, Indonesia kini dinilai memiliki kemampuan membangun sistem digital berskala nasional yang semakin maju.
Coretax menjadi salah satu contoh kemajuan tersebut. Mark menilai sistem perpajakan Indonesia memiliki kemampuan integrasi dan kelengkapan fitur yang bahkan lebih maju dibandingkan sistem di sejumlah negara lain.
Ia mencontohkan Malaysia yang, menurut penilaiannya, masih tertinggal dari Indonesia dalam aspek integrasi dan fitur sistem perpajakan.
Kemajuan tersebut juga membuka peluang pengembangan Coretax menggunakan kecerdasan buatan (AI). Mark menilai ketersediaan data dalam Coretax dapat menjadi fondasi penerapan AI agent untuk mendukung layanan perpajakan di masa mendatang.