NADIKABAR.COM — Dasar Samudra Atlantik menyimpan jejak keputusan manusia puluhan tahun lalu, lebih dari 200 ribu barel limbah radioaktif dibuang ke laut dalam. Kini, sebagian barel tersebut ditemukan dalam kondisi terkorosi. Bahkan, material dari dalamnya terlihat keluar dan menyebar di dasar laut.
Namun, para ilmuwan menemukan sesuatu yang tidak kalah mengejutkan. Barel-barel tersebut ternyata telah menjadi semacam 'oasis' bagi kehidupan laut di tengah lingkungan dasar samudra yang relatif miskin kehidupan.
Temuan ini berasal dari ekspedisi ilmiah NODSSUM (Nuclear Ocean Dump Site Survey Monitoring) yang dipimpin ilmuwan Prancis. Tim peneliti menyelidiki lokasi pembuangan limbah radioaktif di kawasan Atlantik Timur Laut, pada kedalaman sekitar 4.000-5.000 meter.
Praktik pembuangan limbah radioaktif ke laut berlangsung selama beberapa dekade pada pertengahan abad ke-20. Antara 1949 dan 1982, sejumlah negara Eropa membuang lebih dari 200 ribu barel limbah radioaktif ke perairan internasional di Atlantik Timur Laut.
Limbah tersebut dikategorikan sebagai limbah radioaktif tingkat rendah atau menengah. Isinya antara lain lumpur hasil pengolahan, material logam terkontaminasi, resin penukar ion, serta peralatan laboratorium. Limbah kemudian ditempatkan dalam matriks seperti bitumen atau beton sebelum dibuang ke laut dalam.
Pada ekspedisi pertama NODSSUM pada 2025, robot bawah laut otonom UlyX digunakan untuk memetakan dasar laut. Dalam waktu sekitar satu bulan, peneliti berhasil menemukan dan memetakan 3.355 barel.