Setahun kemudian, tim kembali ke lokasi menggunakan kapal penelitian Pourquoi Pas? dan kapal selam berawak Nautile. Kapal selam ini dapat menyelam hingga kedalaman 6.000 meter. Dalam rangkaian penyelaman hingga sekitar 4.700 meter, para ilmuwan memeriksa barel secara langsung dan mengambil sampel sedimen, air, serta organisme di sekitarnya.

Kondisi barel ternyata beragam. Sebagian mengalami korosi dan degradasi berat. Dalam sejumlah pengamatan, material dari dalam barel terlihat keluar dan menyebar di atas pasir dasar laut.

Instrumen penelitian juga mendeteksi keberadaan kobalt-60 dan niobium-94yang dapat dikaitkan dengan limbah yang dibuang. Cesium-137 dan americium-241 juga terdeteksi pada tingkat di atas latar belakang yang diperkirakan berasal dari pengujian nuklir atmosfer dan kecelakaan.

Namun, kondisi tersebut belum otomatis berarti terjadi pencemaran besar-besaran di lautan. Hal menarik lain muncul ketika peneliti mengamati kehidupan di sekitar barel. Anemon menempel pada permukaan barel. Spons, teripang, ikan, dan krustasea hidup di sekitarnya. Kepiting bahkan terlihat memanfaatkan struktur barel sebagai tempat berlindung.

Dengan kata lain, benda yang awalnya dibuat sebagai wadah limbah kini telah menjadi bagian dari lingkungan dasar laut. Fenomena tersebut membuat penelitian menjadi lebih rumit. Para ilmuwan tidak hanya ingin mengetahui apakah radionuklida keluar dari barel, tetapi juga apakah material tersebut masuk ke organisme yang hidup di sekitarnya.

CNRS sebelumnya menjelaskan bahwa salah satu tujuan NODSSUM memang untuk mempelajari interaksi antara radionuklida dan ekosistem, termasuk apakah unsur radioaktif dapat tersedia secara biologis dan masuk ke organisme.