"Kami memiliki banyak pertanyaan mengenai radionuklida. Kami ingin mengetahui apakah radionuklida tersebut telah keluar dari barel dan dalam bentuk apa. Apakah mereka bergerak? Apakah mereka menyebar ke kolom air? Apakah mereka beracun bagi organisme hidup?," ujar ahli geologi kelautan Javier EscartΓ­n, dikutip dari Science Alert.

Pertanyaan itu masih menunggu hasil analisis laboratorium. Sampel sedimen, air, ikan, krustasea, dan komunitas mikroba yang dikumpulkan para peneliti perlu diperiksa untuk mengetahui seberapa jauh radionuklida telah berpindah dari barel dan apakah sudah terakumulasi pada organisme.

Yang juga penting, tim NODSSUM tidak menemukan indikasi bahwa para peneliti menghadapi tingkat radiasi yang menimbulkan persoalan besar dalam kegiatan pengambilan sampel. Instrumen dan kapal selam Nautile juga tidak menunjukkan tanda kontaminasi.

Artinya, temuan ini bukan berarti Atlantik sedang dipenuhi 'kepiting radioaktif'. Justru para ilmuwan sedang mencoba mendapatkan data untuk mengetahui seberapa besar sebenarnya dampak warisan limbah tersebut terhadap ekosistem laut dalam.

Selama puluhan tahun, dasar laut pernah dianggap sebagai tempat yang cukup jauh dari kehidupan manusia untuk membuang limbah. Kini, penelitian menunjukkan bahwa anggapan lama itu tidak sesederhana yang dibayangkan.

Barel-barel tersebut memang berada ribuan meter di bawah permukaan. Tetapi di sana tetap ada kehidupan, dan benda buatan manusia yang seharusnya hanya menjadi tempat penyimpanan limbah ternyata telah menjadi bagian dari habitatnya.