Ia menambahkan LPDB Koperasi tidak hanya menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga mendukung koperasi melalui pendekatan pendampingan, penguatan tata kelola, dan peningkatan kapasitas usaha agar pembiayaan yang diberikan benar-benar produktif dan berkelanjutan.

"Kami ingin koperasi menjadi entitas bisnis yang sehat, profesional, dan mampu mengelola rantai nilai dari hulu hingga hilir. Ketika koperasi memiliki pabrik pengolahan, akses pasar, dan manajemen yang baik, maka manfaat ekonomi akan kembali kepada anggota koperasi, yaitu para petani. Itulah esensi ekonomi kerakyatan yang diamanatkan konstitusi," ujarnya.

Krisdianto juga menilai kolaborasi tim redaksi koperasi, PT Agrinas Palma Nusantara, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan lembaga pembiayaan menjadi momentum penting untuk membangun ekosistem sawit berbasis koperasi yang lebih inklusif.

Menurutnya, Musi Banyuasin memiliki potensi menjadi model nasional dalam pengembangan hilirisasi sawit berbasis koperasi karena memiliki basis petani yang kuat, dukungan pemerintah daerah, serta peluang integrasi dengan industri pengolahan.

Seminar nasional ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Koperasi mempercepat transformasi koperasi sektor riil, khususnya di sektor perkebunan strategis. Dengan penguatan kelembagaan koperasi, akses pembiayaan, dan kemitraan industri, pemerintah berharap koperasi sawit mampu menjadi motor penggerak hilirisasi, peningkatan kesejahteraan petani, dan penguatan ketahanan ekonomi nasional.

Bagi LPDB Koperasi, hilirisasi sawit berbasis koperasi merupakan langkah strategis untuk memastikan nilai tambah komoditas sawit dapat dinikmati lebih besar oleh petani melalui kepemilikan bersama dalam wadah koperasi.