NADIKABAR.COM — Kebakaran hutan di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sulawesi tak cuma mengganggu kehidupan masyarakat sekitar. Bahkan, peninggalan prasejarah seperti lukisan gua tertua di dunia yang berada di Sulawesi ikut terancam.
Para peneliti mengkhawatirkan keberadaan lukisan gua tertua di dunia yang diperkirakan berusia lebih dari 67 ribu tahun di pulau Sulawesi saat ini sedang terancam karena panas dan asap kebakaran hutan.
Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan terparah sejak satu dekade terakhir karena fenomena El Nino yang meningkatkan suhu dan mengurangi curah hujan berdampak pada kekeringan berkepanjangan selama musim kemarau 2026.
Kondisi kering menjadikan hutan dan lahan gambut di banyak wilayah rentan terbakar, terutama Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran juga terjadi di hutan Sulawesi yang apinya menyebar ke Sulawesi Selatan tempat gua-gua batu kapur menyimpan karya seni prasejarah tertua di dunia.
Para peneliti dari Griffith University Australia menyebut lukisan yang menggambarkan sosok mirip manusia dan seekor babi di sebuah gua di Maros-Pangkep diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun. Selain itu, ada juga cetakan tangan berwarna merah yang diperkirakan berusia 67.800 tahun di sebuah gua di Muna, lepas pantai Sulawesi.
Karya-karya bersejarah tersebut saat ini sedang terancam kebakaran hutan yang terus berlangsung di sekitarnya. Api telah menyebar sampai di dekat gua Maros-Pangkep, asapnya juga mengepul sampai ke atas perbukitan karst yang telah menjadi taman nasional dan Geopark Global UNESCO tersebut.
Menurut laporan Reuters, Jumat (23/10), petugas pemadam kebakaran Muhammad Ikfar mengatakan api telah membakar wilayah itu selama lebih dari satu pekan di awal bulan Oktober dan menjalar hingga apinya berjarak hanya sekitar 800 meter dari gua.
Ikfar mengatakan lebih dari 270 hektare hutan di taman nasional atau Geopark Maros-Pangkep telah terbakar sejak tanggal 30 September hingga 18 Oktober. Para peneliti khawatir kondisi ini dapat merusak lukisan yang ada di gua tersebut.
"Dampak pertama dan paling merusak adalah panas. Bahkan tanpa api langsung yang menyentuh lukisan, hal itu dapat merusaknya karena mengubah suhu di sekitar lukisan dan mempercepat proses korosi," kata arkeolog dari Griffith University Basran Burhan.
Selain api yang dapat merusak lukisan serta panas yang bisa mempercepat korosi, asap hasil kebakaran tersebut juga berisiko menghasilkan jelaga, pecahan karbon berbentuk butiran halus yang hitam pekat.
"Asap membuat jelaga pada lukisan dan menutupinya, sehingga lukisan-lukisan itu menjadi buram dan sulit dikenali," katanya.
Hingga proses pemadaman pada hari Kamis (22/10) dan Jumat (23/10), Ikfar mengatakan kondisi lahannya cenderung kering dan hujan belum juga turun di wilayah tersebut sejak api menyebar.
"Jika kita tidak segera melakukan sesuatu mengenai hal ini, jika tidak ada upaya mitigasi taktis untuk insiden ini, kita akan kehilangan salah satu bukti sejarah manusia yang paling menakjubkan di Maros-Pangkep. Dan itu sangat disayangkan," tegas Burhan.